Diego Alberto Milito lahir pada 12 Juni 1979 di Argentina dan dikenal sebagai striker tajam dengan julukan El Principe atau Sang Pangeran. Julukan tersebut melekat karena kemiripan fisiknya dengan mantan pemain Uruguay, Enzo Francescoli, yang memiliki panggilan serupa.
Perjalanan karier profesional Milito bermula di Racing Club pada tahun 1999 sebelum akhirnya melanglang buana ke Eropa. Ia mencatatkan karier cemerlang bersama klub-klub seperti Genoa, Real Zaragoza, hingga puncaknya menjadi ikon di Inter Milan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSosok Milito menjadi aktor utama kesuksesan Inter Milan saat menorehkan sejarah treble winner pada musim 2009-2010. Ia mencetak 30 gol di semua kompetisi, termasuk dua gol penentu kemenangan di final Liga Champions melawan Bayern Munich.
Karier internasional Milito bersama timnas Argentina juga cukup impresif dengan mencatatkan 25 penampilan dan berpartisipasi dalam dua turnamen Copa America serta Piala Dunia 2010. Ia akhirnya menutup karier sepak bolanya di klub asal Racing Club pada 2016.
Kenangan Indah Sang Pangeran di Inter Milan
Ketajaman Milito tidak hanya terlihat di Liga Champions, namun juga sangat krusial dalam perebutan gelar Scudetto bagi Inter Milan. Salah satu momen ikoniknya terjadi saat mencetak gol kemenangan melawan Siena di partai terakhir musim 2009-2010.
Gol tersebut dianggap Milito sebagai momen terbaik sepanjang karier profesionalnya karena berhasil membawa tim memastikan gelar liga di tengah persaingan sengit dengan Roma. Keberhasilannya ini melengkapi dominasi Inter Milan di kancah sepak bola Italia.
Atas kontribusinya yang luar biasa, Milito dinobatkan sebagai UEFA Club Footballer of the Year dan UEFA Club Forward of the Year pada tahun 2010. Prestasi tersebut menjadi bukti valid atas kualitas dan pengaruhnya di lapangan hijau Eropa.
Setelah masa keemasannya di Italia, Milito memutuskan kembali ke pelukan Racing Club pada 2014 untuk mengakhiri pengabdiannya. Ia meninggalkan warisan besar sebagai salah satu penyerang paling efisien dalam sejarah sepak bola modern.