Fédération Internationale de Football Association (FIFA) menghadapi berbagai tuduhan korupsi berat yang berujung pada investigasi kriminal serta penuntutan hukum di berbagai negara. Berdasarkan pengamatan Kabayan News, organisasi tertinggi sepak bola dunia tersebut kerap terseret kasus suap, kecurangan pemilihan tuan rumah Piala Dunia, serta pengelolaan keuangan kurang transparan.
Sejarah kelam kepemimpinan FIFA berakar sejak era Joao Havelange yang mengambil alih kursi kepresidenan pada tahun 1974 melalui dukungan blok negara berkembang. Melalui aliran dana pengembangan dan kerja sama komersial, Havelange membangun hubungan patronase yang membentuk pola sistemik korupsi berlanjut hingga dekade berikutnya.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribePuncak krisis kepemimpinan terjadi pada tahun 2015 ketika otoritas Amerika Serikat dan Swiss menangkap sejumlah eksekutif puncak FIFA atas dakwaan pemerasan dan penipuan. Penyelidikan tersebut memaksa Sepp Blatter mundur dari posisinya sebagai presiden menyusul temuan pembayaran mencurigakan kepada Michel Platini.
Gianni Infantino kemudian naik memimpin FIFA pada tahun 2016 dengan janji memulihkan citra serta transparansi organisasi dari bayang-bayang masa lalu. Namun, berbagai kritikus menilai reformasi internal belum berjalan optimal karena masih menyisakan persoalan tata kelola yang independen serta akuntabilitas publik.