Alphabet Inc. mengalami penurunan nilai pasar hingga 700 miliar dolar AS atau setara dengan sekitar 15 persen dari puncak tertingginya setelah sempat menjadi saham teknologi unggulan. Penurunan ini dipicu oleh keraguan investor terhadap posisi perusahaan dalam perlombaan kecerdasan buatan global serta kekhawatiran atas tingginya biaya belanja infrastruktur.
Tekanan terhadap induk perusahaan Google tersebut semakin meningkat setelah terjadinya gelombang kepergian sejumlah tokoh penting dari divisi riset dan strategi AI. Baru-baru ini, Jeff Dean memutuskan keluar untuk mendirikan perusahaan rintisan bersama beberapa rekan kerjanya, sementara Demis Hassabis beralih posisi menjadi ketua di laboratorium riset Google DeepMind.
Analis teknologi dari CFRA Angelo Zino menyatakan bahwa perpindahan talenta top tersebut memunculkan risiko tersendiri bagi perusahaan di tengah ketatnya persaingan pasar. Pasar saat ini terus mempertanyakan kemampuan perusahaan teknologi besar dalam memonetisasi investasi kecerdasan buatan secara efektif.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeDi sisi lain, Alphabet juga menghadapi kendala operasional terkait keterlambatan pengembangan model AI terkuatnya, yakni Gemini 3.5 Pro, yang tertunda dari jadwal karena perbaikan pada kapabilitas pengodean. Meskipun demikian, pihak perusahaan mengeklaim bahwa momentum dan kecepatan peluncuran produk tetap berada pada tingkat tertinggi dengan dirilisnya model Gemini 3.7 Flash.
Tantangan Belanja Modal dan Pandangan Investor
Selain masalah perpindahan tenaga ahli, investor turut menyoroti peningkatan belanja modal Alphabet yang agresif guna membangun pusat data kecerdasan buatan. Perusahaan bahkan baru saja menghimpun dana sebesar 25 miliar dolar AS melalui penawaran obligasi dengan imbal hasil tinggi untuk mendanai ekspansi tersebut.
Analis dari Janus Henderson Divyaunsh Divatia menilai bahwa pengeluaran modal yang masif membuat arus kas bebas perusahaan menjadi negatif dan memicu kekhawatiran di kalangan investor. Tekanan pasar ini diperparah oleh faktor makroekonomi global, termasuk konflik geopolitik dan potensi suku bunga tinggi yang menahan laju pertumbuhan saham teknologi.
Kendati demikian, sejumlah pengamat pasar tetap melihat peluang positif dari perombakan struktur talenta dan kepemilikan aset komputasi yang masif oleh perusahaan. Portofolio manajer di Sands Capital Management Daniel Pilling berpendapat bahwa kehadiran kelompok talenta baru berpotensi membawa Google kembali ke jalur kejayaannya.
Hingga kini, para investor masih menantikan kejelasan lebih lanjut dari manajemen terkait performa bisnis kecerdasan buatan pada laporan keuangan berikutnya. Kepala Riset Telekomunikasi, Media, dan Teknologi Visible Alpha Melissa Otto menegaskan bahwa fokus utama pasar adalah bagaimana teknologi tersebut mulai menterjemahkan diri ke dalam pertumbuhan fundamental.