Sebagaimana diwartakan, kebijakan pemerintah yang mendorong Perum Bulog untuk menjadi pembeli utama dari petani dengan target ambisius menyerap hingga 4 juta ton gabah justru memicu gejolak baru di sektor hulu pertanian.
Berdasarkan laporan yang ada, langkah tersebut membuat Perum Bulog harus terjebak dalam persaingan sengit melawan sekitar 170 ribu penggilingan swasta yang beroperasi di lapangan demi mendapatkan pasokan gabah.
Menurut pandangan Guru Besar Ekonomi Pertanian Universitas Bengkulu sekaligus Ketua Bidang Kebijakan Publik ASASI Andi Irawan, perang harga antara lembaga negara dan swasta tersebut tidak terhindarkan lagi.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeKondisi panas di tingkat petani ini pada akhirnya mendorong lonjakan harga gabah secara drastis hingga melampaui angka Rp 8.000 per kilogram, yang kemudian berimbas langsung pada melambungnya harga beras di tingkat konsumen akhir.