Reimagine Robotics didirikan oleh sejumlah mantan insinyur Google DeepMind untuk mengembangkan teknologi robot agar dapat dilatih langsung oleh para penggunanya di lingkungan kerja. CEO Reimagine Robotics Jonathan Scholz menyatakan bahwa pendekatan ini bertujuan mengatasi kendala utama industri robotika terkait minimnya ketersediaan data pelatihan di dunia nyata.
Perusahaan rintisan yang berbasis di London dan Sydney ini mendapatkan dukungan pendanaan dari firma modal ventura Fly Ventures serta Firstminute Capital. Sebelum mendirikan startup tersebut, Scholz memimpin tim robotika terapan di Google dan menyadari bahwa tantangan terbesar bukan pada teknologi dasarnya, melainkan kemudahan adaptasi bagi staf di lapangan.
"Apa yang benar-benar Anda butuhkan untuk membuat robot dapat dioperasikan di lapangan adalah menjadikannya mudah digunakan dan dapat diadaptasi oleh staf yang benar-benar memahami pekerjaan tersebut," ujar Scholz.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeUntuk mengatasi kesenjangan data pelatihan robot atau yang dikenal sebagai ketersediaan data dunia nyata, Reimagine Robotics menerapkan metode pembelajaran "monkey see, monkey do" pada perangkat lengan robotik mereka. Pelanggan dapat mengajari robot suatu tugas baru dengan cara memperagakannya secara langsung, lalu mengoreksi gerakan lengan robotik tersebut jika diperlukan.
Atasi Krisis Data Pelatihan AI
Kelangkaan data pelatihan menjadi hambatan besar dalam adopsi robot di dunia nyata dibandingkan dengan model bahasa besar seperti ChatGPT yang dilatih menggunakan korpus teks digital yang sangat luas. Pakar robotika UC Berkeley Ken Goldberg menyebutkan adanya kesenjangan data hingga 100.000 tahun karena kurangnya data pengalaman dunia nyata untuk sistem kecerdasan buatan robot.
Dalam uji coba di perusahaan pemrosesan daur ulang material hard disk, Reimagine Robotics mencatat keberhasilan memangkas durasi pelatihan tugas baru pada robot dari yang mulanya memakan waktu satu hari menjadi hanya 10 menit saja. Scholz menjelaskan bahwa para pekerja di pabrik mampu mengambil alih proses pelatihan dengan cepat tanpa harus memanggil tim ahli teknis dari pusat.
"Jika mereka harus memanggil tim ahli robotika untuk terbang dan memperbaikinya setiap kali ada kendala, perangkat itu hanya akan menjadi kertas penindih mahal," kata Scholz.
Ke depannya, industri robotika diprediksi akan memunculkan ekonomi hilir baru berupa profesi khusus sebagai pelatih robot yang menjembatani kebutuhan pabrik dalam memprogram tugas spesifik secara efisien.