Kelompok peretas yang terafiliasi dengan negara China menggunakan DeepSeek AI untuk mengotomatisasi serangan siber otonom dan menargetkan lebih dari 460 sistem dengan sumber daya yang lebih sedikit. Berdasarkan laporan perusahaan keamanan siber asal Taiwan, TeamT5, aktivitas serangan kelompok tersebut telah meningkat lebih dari dua kali lipat berkat integrasi kecerdasan buatan.
Kelompok-kelompok ini kini memanfaatkan kecerdasan buatan di berbagai tahapan, mulai dari pengintaian, riset kerentanan, penemuan target, pengembangan malware, hingga pembuatan eksploit. DeepSeek menjadi pilihan populer karena menawarkan performa mumpuni, biaya operasional rendah, serta pembatasan keamanan siber yang relatif longgar.
Kepala Analis TeamT5, Charles Li, mengidentifikasi DeepSeek sebagai model pilihan di antara beberapa kelompok peretas China akibat aksesibilitasnya yang tinggi serta minimnya pengamanan terhadap permintaan keamanan siber yang berpotensi berbahaya. Pelaku dapat menyelesaikan tugas-tugas berat dengan lebih cepat tanpa perlu memperluas tim atau berinvestasi besar pada infrastruktur tambahan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSejumlah kelompok peretas teridentifikasi menggunakan kecerdasan buatan dalam kampanye terpisah terhadap perusahaan dan lembaga target. Grimfengxi dilaporkan menggunakan DeepSeek untuk menghasilkan kode eksploit bagi sistem yang mengandung kelemahan keamanan, sementara Huapi menargetkan infrastruktur email perusahaan Taiwan menggunakan model AI China.
Agen Otonom Targetkan Ratusan Sistem dan Kurangi Biaya Operasi
Riset dari unit Unit 42 milik Palo Alto Networks mengungkap kampanye lain yang melibatkan DeepSeek dan kerangka kerja Hermes Agent untuk melacak mesin rentan dan menginisiasi serangan dengan pengawasan terbatas. Agen otonom tersebut mampu menangani pekerjaan teknis yang berulang sementara operator manusia mengelola tujuan serta strategi yang lebih luas.
Penyerang asal China juga mengadopsi model kecerdasan buatan barat ketika platform tersebut menyediakan kemampuan pengkodean atau pemrosesan data yang berguna. Perusahaan keamanan siber CyCraft menemukan bukti bahwa vendor alat peretas menggunakan ChatGPT saat menyerang sebuah lembaga pemikir barat untuk membantu mengembangkan perangkat lunak dekripsi.
TeamT5 turut menghubungkan kelompok peretas Slime22 dengan penggunaan Claude Code milik Anthropic saat terjadi pembobolan di perusahaan teknologi Taiwan. Peretas menyamar sebagai insinyur keamanan siber untuk melewati batasan keamanan, kemudian memanfaatkan model pengkodean tersebut guna mendukung pergerakan di dalam sistem perusahaan.
Model kecerdasan buatan yang terjangkau terbukti mampu mengotomatisasi tugas repetitif dan memberikan bantuan teknis tanpa memerlukan teknologi tercanggih sekalipun. Organisasi kini dituntut memperkuat pemantauan guna mendeteksi pengintaian cepat, upaya eksploitasi otomatis, dan aktivitas mencurigakan di dalam jaringan internal.