Aktivitas gunung berapi di Merkurius telah berhenti total sejak 3,5 miliar tahun lalu akibat proses penyusutan planet yang terus mendingin dari waktu ke waktu. Berbeda dengan bumi yang memiliki vulkanisme aktif sepanjang sejarah, planet terdekat dari matahari ini menyimpan sejarah vulkanik purba yang kini baru terungkap melalui penelitian terbaru.
Para peneliti menggunakan manik-manik kaca buatan laboratorium untuk mengukur radiasi inframerah dan menentukan kadar silika di permukaan planet tersebut secara akurat. Hasil analisis menunjukkan kandungan silika di permukaan Merkurius ternyata hingga 25 persen lebih rendah dari perkiraan sebelumnya.
"Temuan kami menunjukkan batuan vulkanik di Merkurius terbentuk dari material mantel yang meleleh jauh lebih dalam dari asumsi sebelumnya," ujar penulis utama studi Christian Renggli dari Max Planck Institute for Solar System Research dalam keterangannya.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeProses penyusutan global yang terjadi terus-menerus selama 4,5 miliar tahun membuat kerak planet ini saling mendesak dan membentuk tebing curam di permukaannya. Fenomena penyusutan inilah yang diyakini menutup celah vulkanisme permukaan Merkurius sejak 3,5 miliar tahun lampau.
Misi BepiColombo Siap Ungkap Misteri Vulkanik Merkurius
Misi antariksa BepiColombo yang dioperasikan bersama oleh European Space Agency dan Japan Aerospace Exploration Agency diharapkan mampu mengonfirmasi data silika tersebut. Wahana antariksa ini dijadwalkan memasuki orbit Merkurius pada November 2026 untuk memetakan sejarah vulkanismenya.
"Bulan menjadi batu sandungan sekaligus batu loncatan konseptual yang penting dalam perjalanan kami menuju Merkurius," ungkap Christian Renggli menjelaskan metodologi kalibrasi yang digunakan tim periset.
Metode kalibrasi menggunakan manik-manik kaca berukuran setengah milimeter terbukti sukses memetakan kandungan silika di bulan berdasarkan data radiasi inframerah dari Lunar Reconnaissance Orbiter. Pendekatan analitis serupa kemudian diterapkan untuk mengukur kondisi permukaan Merkurius secara akurat.
Kehadiran wahana BepiColombo pada akhir tahun 2026 diyakini akan membuka jendela baru dalam memahami evolusi geologi serta aktivitas vulkanik purba di Tata Surya.