Koreografer kenamaan Aszure Barton mencetak sejarah baru di dunia seni pertunjukan melalui karya terbarunya yang dipentaskan dalam ajang Edinburgh International Festival. Sebagaimana diwartakan, ia menjadi koreografer wanita pertama dalam kurun waktu 93 tahun sejarah San Francisco Ballet yang dipercaya menggarap sebuah karya berdurasi penuh. Pertunjukan yang diberi judul Mere Mortals ini memadukan narasi klasik mitologi Yunani kuno dengan isu modern mengenai perkembangan teknologi kecerdasan buatan.
Awalnya, Barton mengaku sempat ragu ketika mendapatkan tawaran untuk mengangkat kisah kotak Pandora ke atas panggung. Ia tidak ingin terjebak pada narasi tradisional yang kerap menyudutkan karakter wanita sebagai pembawa malapetaka bagi umat manusia. Namun, setelah melakukan riset mendalam serta membaca berbagai literatur, pandangannya pun berubah total terhadap figur mitologis tersebut. "Saya menemukan bahwa begitu banyak hal dalam hidup kita yang salah diartikan, dan saya menyukai kenyataan bahwa Pandora jauh lebih dari sekadar bayangan buruk, ia adalah manusia yang memiliki kehendak bebas," ungkap Barton mengutip laporan media setempat.
Pertunjukan balet yang digarapnya ini tidak hanya menonjolkan keindahan gerak tubuh, tetapi juga menyuguhkan kolaborasi musik elektronik modern dan orkestra megah. Musik latar dalam pementasan ini dikomposisikan oleh produser musik elektronik Sam Shepherd atau yang lebih dikenal sebagai Floating Points. Perpaduan antara unsur balet klasik dan gaya kontemporer yang diusung Barton berhasil menciptakan sebuah lanskap seni yang unik. Melalui karya tersebut, ia ingin mengajak para penonton untuk merenungkan dampak positif sekaligus bahaya tersembunyi dari teknologi canggih saat ini.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribePemilihan tema kecerdasan buatan dirasa sangat tepat karena proses kreatif pembuatan karya ini bertempat di jantung industri teknologi dunia di San Francisco. Di sisi lain, proses latihan tari juga melibatkan pendekatan yang tidak biasa guna meruntuhkan hierarki kaku di antara para penari profesional. Sejumlah penari utama seperti Wei Wang dan Nikisha Fogo turut merasakan pengalaman berharga saat berlatih bersama jajaran penari dari berbagai tingkat kemampuan dalam satu ruangan yang sama. Mereka menilai bahwa kolaborasi lintas generasi ini mampu mempererat rasa kekeluargaan serta memunculkan sudut pandang baru dalam berkesenian.
Bagi para penampil, pementasan ini menjadi sebuah batu loncatan penting untuk keluar dari zona nyaman pertunjukan balet konvensional. Mereka berharap karya kontemporer ini mampu memicu diskusi publik yang lebih luas mengenai masa depan hubungan antara manusia dan teknologi. "Kotak Pandora telah resmi dibuka terkait kecerdasan buatan, dan kita tidak pernah tahu ke mana teknologi ini akan membawa kita di masa depan," ujar Nikisha Fogo menggambarkan esensi dari pertunjukan tersebut.