Sebagaimana diwartakan, konsep perkotaan yang dikenal sebagai kota 15 menit telah mengubah cara pandang masyarakat dunia terhadap tata ruang tempat tinggal mereka sejak pertama kali diperkenalkan pada tahun 2010 silam.
Pencipta konsep tersebut, urbanis terkemuka Carlos Moreno, menjelaskan bahwa model ini dirancang agar masyarakat dapat mengakses kebutuhan utama seperti pekerjaan, pendidikan, kesehatan, dan hiburan dalam radius dekat dari tempat tinggal mereka.
Dalam wawancara eksklusif yang dikutip dari laporan media Argentina, Moreno menyoroti dinamika perkotaan di kota Buenos Aires atau CABA yang dinilai masih menghadapi sejumlah tantangan besar setelah bergabung dengan program global tersebut pada 2022.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe"Buenos Aires telah memiliki komitmen dengan pemerintahan sebelumnya dalam perjuangan melawan darurat iklim, namun tantangan utamanya adalah kurangnya kesinambungan kebijakan dari administrasi saat ini," ujar Carlos Moreno sebagaimana dilaporkan oleh La Nacion.
Ia juga menambahkan bahwa pandemi Covid-19 telah memberikan tiga pelajaran penting bagi tata kota global, yakni fleksibilitas pola kerja jarak jauh, pentingnya keseimbangan hidup personal dan profesional, serta krusialnya arti kedekatan lingkungan sekitar.
Selain menyoroti ibu kota, Moreno turut memberikan pujian khusus terhadap perkembangan wilayah Bariloche del Este yang dianggapnya merepresentasikan wujud nyata urbanisme abad ke-21 yang berkelanjutan.
"Bariloche del Este sangat patut dicontoh karena mencakup gagasan penggunaan ganda dalam kepadatan vertikal di skala perkotaan, lengkap dengan ruang hijau, perdagangan, serta perumahan yang terjangkau," jelasnya.
Kedatangan urbanis asal Kolombia yang menetap di Prancis ini ke Argentina diagendakan untuk memimpin acara pembukaan Kongres Internasional Kota Cerdas kelima yang diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Ekonomi Universidad de Buenos Aires.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga dijadwalkan menerima gelar Doktor Honoris Causa dari universitas bergengsi itu sebagai bentuk apresiasi atas kontribusinya dalam merancang ruang hidup yang lebih manusiawi dan ramah lingkungan.
Melalui gagasannya, ia berharap generasi muda dapat mengambil peran penting dalam mengoreksi arah pembangunan global demi menciptakan kualitas hidup dan pengelolaan waktu yang jauh lebih adil.