Berdasarkan laporan media O Brasilianista, konstelasi politik dalam pemilihan presiden di Brasil sejak tahun 2006 menunjukkan adanya pola pembagian suara regional yang cenderung stabil. Wilayah Nordeste secara konsisten mendukung kubu lulismo, sementara Centro-Oeste dan Sul condong ke arah kanan, dan wilayah Norte kerap terbagi, dengan kawasan Sudeste sebagai penentu utamanya.
Mengutip analisis dari pakar politik Carlos Eduardo Bellini Borenstein yang dipublikasikan oleh O Brasilianista, tiga negara bagian terbesar di wilayah Sudeste yakni São Paulo, Minas Gerais, dan Rio de Janeiro memiliki peran strategis sebagai penentu kemenangan di Palácio do Planalto. Kekuatan suara di tiga wilayah padat penduduk ini terbukti menjadi faktor krusial dalam pertarungan ketat pada pemilu-pemilu sebelumnya.
Pada pemilihan presiden tahun 2018, Jair Bolsonaro berhasil mengamankan kemenangan signifikan atas Fernando Haddad di wilayah Sudeste dengan keunggulan suara yang sangat besar. Keunggulan mutlak di São Paulo, Minas Gerais, dan Rio de Janeiro tersebut memberikan selisih suara yang sangat masif bagi kemenangan Bolsonaro secara nasional.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSebaliknya, dinamika politik mengalami pergeseran pada pemilu tahun 2022 ketika Luiz Inácio Lula da Silva sukses memperkuat basis dukungannya di wilayah yang sama. Peningkatan perolehan suara Lula di Sudeste, yang dibarengi dengan penurunan selisih suara dari kubu petahana kala itu, menjadi kunci penentu kemenangan tipis dalam pemilu paling ketat dalam sejarah modern Brasil.
Menyongsong kontestasi politik mendatang, lembaga riset Ideia Big Data memproyeksikan bahwa persaingan menuju kursi kepresidenan akan kembali ditentukan oleh selisih suara yang sangat tipis, yakni sekitar tiga persen. Mengingat dominasi tradisional kubu kiri di wilayah Nordeste, besarnya dukungan atau keunggulan yang mampu diraih oleh kubu oposisi dan kanan di kawasan Sudeste diprediksi akan kembali menjadi faktor penentu utama siapa yang berhak memegang kendali pemerintahan.