Berdasarkan laporan media, Desa Wisata Slukatan yang terletak di Kecamatan Mojotengah, Kabupaten Wonosobo, menyimpan kekayaan tradisi luhur berupa boneka tradisional bernama Golek Tholo. Kreasi seni yang terbuat dari gulungan kain jarik ini ternyata tidak hanya berfungsi sebagai sarana permainan anak di masa lampau, melainkan juga bertindak sebagai media spiritual serta simbol keterikatan manusia dengan Sang Pencipta dalam setiap fase kehidupan.
Sebagaimana diwartakan oleh Joglo Jateng, penggagas Desa Wisata Slukatan berbasis pemberdayaan masyarakat, Ahmad Hafid, menjelaskan bahwa kemunculan Golek Tholo di Dusun Silandak berawal dari keterbatasan aksesibilitas serta kondisi ekonomi warga pada masa lampau. Ketika akses jalan masih berupa jalan setapak tanah dan masyarakat belum mampu membeli mainan pabrikan modern, warga berinisiatif merakit boneka sendiri dari kain jarik.
Menurut keterangan Hafid, proses pembuatan Golek Tholo dilakukan dengan melipat serta menggulung kain jarik hingga membentuk wujud abstrak yang menyerupai bagian kepala dan badan. Pembuatannya wajib diiringi dengan alunan tembang khas Jawa serta gerakan tarian berirama yang berfungsi untuk menenangkan bayi ketika sedang menangis.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeAdapun salah satu bait tembang sakral yang dilantunkan dalam prosesi tersebut yaitu "Cobi coco, cobi coco jabang bayi, kie nangis cep meneng kersaneng Allah. Laa ilaaha illallah Muhammadur Rasulullah". Setelah situasi menjadi tenang, para ibu dapat kembali melanjutkan pekerjaan rumah tangga, sementara lipatan boneka tersebut dapat difungsikan kembali sebagai kain gendongan.
Lebih lanjut, Hafid membeberkan bahwa tradisi ini memiliki kesinambungan makna yang luar biasa dari awal pernikahan hingga akhir hayat manusia. Kain jarik pengantin khususnya dari Solo sepuh yang digunakan memiliki kaitan spiritual erat, mulai dari syukuran kehamilan, proses kelahiran, penyapihan, sarana pengobatan tradisional saat anak sakit, hingga akhirnya menutup jenazah sebelum dibalut kain kafan.
Mengutip laporan Joglo Jateng, pengelola kini gencar merevitalisasi warisan budaya leluhur ini dengan mengintegrasikannya ke dalam paket edukasi wisata agar nilai filosofisnya tidak punah ditelan zaman. Upaya pelestarian ini penting agar masyarakat luas memahami bahwa Golek Tholo bukan sekadar alat penenang tangis bayi, melainkan warisan adiluhung sarat makna kehidupan.