Penerapan strategi digital berbasis registry untuk mengidentifikasi pasien gagal jantung yang belum diobati terbukti melipatgandakan implementasi terapi efektif berdasarkan hasil uji klinis EMAIL-HF di ESC Congress 2026.
Berdasarkan analisis Kabayan News, gagal jantung mempengaruhi lebih dari 64 juta individu di seluruh dunia serta menjadi masalah kesehatan masyarakat utama dengan tingkat mortalitas dan morbiditas tinggi.
Dokter Mariam Elmegaard dari Herlev and Gentofte University Hospital di Kopenhagen, Denmark, menjelaskan bahwa inhibitor SGLT2 terbukti bermanfaat tetapi adopsinya dalam praktik klinis rutin masih terbatas.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribePenerapan terapi baru seperti inhibitor SGLT2 menghadapi tantangan besar pada pasien dengan kondisi lama karena mereka tidak lagi mengikuti kontrol di klinik spesialis melainkan perawatan umum.
Tim peneliti menguji pendekatan digital inovatif guna meningkatkan terapi inhibitor SGLT2 dengan memanfaatkan registry kesehatan nasional untuk mengidentifikasi pasien tidak diobati secara proaktif.
Sebanyak 5.996 pasien dilibatkan dalam uji klinis acak berbasis registry di Capital Region Denmark dan kota Roskilde dengan rata-rata usia 71 tahun serta 33 persen di antaranya wanita.
Hasil utama menunjukkan bahwa inisiasi terapi inhibitor SGLT2 meningkat lebih dari dua kali lipat pada kelompok strategi digital sebesar 18.6 persen dibandingkan 8.2 persen pada kelompok perawatan biasa.
Dokter Elmegaard menyatakan bahwa tantangan terbesar dalam kedokteran kardiovaskular bukan menemukan perawatan baru, melainkan memastikan pasien menerima terapi terbukti secara tepat waktu.