Dunia pelatihan semi-militer kembali berduka setelah lima peserta Latihan Dasar Militer (Latsarmil) SPPI dilaporkan meninggal dunia saat mengikuti rangkaian kegiatan. Berdasarkan pantauan redaksi, insiden tragis ini langsung memicu perhatian publik dan menuai kritik tajam dari berbagai kalangan, khususnya mengenai standar operasional prosedur keselamatan yang diterapkan oleh pihak penyelenggara di lapangan.
// RELATED STORIES
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Menurut Peneliti Global Health Security yang juga seorang epidemiolog dan dokter, Dicky Budiman, peristiwa tragis ini tidak bisa hanya dipahami sebagai persoalan kondisi kesehatan individu peserta semata. Meskipun dugaan awal menyebutkan bahwa sebagian korban meninggal akibat mengalami serangan "heat stroke" atau sengatan panas, ia menegaskan bahwa penyebab pasti dari insiden ini masih harus menunggu hasil investigasi resmi.
Dari perspektif kesehatan masyarakat, Dicky Budiman menilai bahwa kematian beberapa peserta dalam satu kegiatan yang sama merupakan indikator kuat adanya kegagalan dalam sistem manajemen risiko. "Sekali lagi, peristiwa dengan beberapa kematian dalam satu program pelatihan ini adalah indikator adanya kegagalan sistem manajemen risiko kesehatan, itu sudah jelas. Jadi bukan semata-mata persoalan kondisi individu peserta," kata Dicky saat memberikan keterangan kepada Tribunnews.com pada Rabu (1/7/2026).
Berdasarkan pengamatan tim redaksi, risiko latihan fisik berat di bawah iklim tropis Indonesia memang sangat tinggi, seperti ancaman dehidrasi, kelelahan akut, hingga sengatan panas ekstrem. Oleh karena itu, Dicky meminta pihak penyelenggara segera meninjau ulang seluruh tahapan pelatihan, mulai dari proses seleksi awal peserta, desain kurikulum fisik, hingga kesiapan penanganan medis darurat di lapangan.
Menurutnya, ketersediaan fasilitas medis yang memadai, alat kedaruratan yang lengkap, jalur evakuasi yang cepat, serta koordinasi dengan rumah sakit rujukan terdekat harus dipastikan siap sejak awal kegiatan dimulai. Evaluasi yang komprehensif harus menyasar pada desain sistem keselamatan pelatihan secara menyeluruh agar kejadian serupa tidak kembali terulang di masa depan.
Dicky juga menegaskan bahwa keberhasilan dari suatu program pelatihan fisik tidak hanya diukur dari tingkat kedisiplinan dan ketahanan anggotanya, melainkan dari bagaimana sistem tersebut mampu menjamin keselamatan jiwa para pesertanya. "Kalau dalam satu program terjadi beberapa kematian maka evaluasi harus mencakup sistem seleksi, desain pelatihan, pemantauan medis, dan manajemen keselamatan," ujarnya menutup pernyataan. Kasus ini kini menambah daftar panjang sorotan publik terhadap standar keselamatan pelatihan fisik massal di Indonesia.