Kabayan News Kabayan News
/home / berita / AI Makin Cerdas, Mengapa Humaniora...
BERITA

AI Makin Cerdas, Mengapa Humaniora Tetap Penting di Era Digital

By Redaksi Kabayan News 2 min read 20 Agustus 2026
Humaniora tetap penting di era digital meskipun kecerdasan buatan semakin canggih

Humaniora tetap penting di era digital meskipun kecerdasan buatan semakin canggih

Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence saat ini telah mencapai titik di mana mesin mampu menulis ringkasan, menerjemahkan bahasa, hingga menyusun puisi dalam hitungan detik. Kondisi ini lantas memicu perdebatan mengenai urgensi ilmu humaniora di tengah dunia yang semakin otomatis.

Sebagaimana diwartakan dalam laporan media, kemampuan mesin dalam mengolah informasi tidak serta-merta berarti kemampuan memahami kehidupan secara utuh. Semakin canggih sebuah sistem dalam menghitung, semakin penting pula bagi manusia untuk mempertanyakan apa yang sebenarnya sedang dihitung dan apa yang justru luput dari perhitungan tersebut.

Mengutip ulasan akademis dari mahasiswa UIN Prof KH Saifuddin Zuhri Purwokerto, kehadiran teknologi canggih tidak untuk ditolak, melainkan untuk direnungkan dampaknya terhadap pembentukan karakter manusia. Pertanyaan mendasar yang harus dijawab adalah manusia seperti apa yang sedang dibentuk di tengah dominasi teknologi yang semakin kuat.

Dalam pandangan etika modern, hubungan antara teknologi dan manusia tidak bisa berjalan di jalur yang terpisah. Meskipun AI memiliki kemampuan komputasional luar biasa untuk mengenali pola dan membuat prediksi, manusialah yang tetap memegang kendali penuh dalam menentukan arah, tujuan, serta pertanggungjawaban moral.

Organisasi UNESCO melalui rekomendasinya pada tahun 2021 telah menegaskan bahwa pengawasan manusia, akuntabilitas, dan penghormatan terhadap martabat manusia harus menjadi fondasi utama setiap sistem AI. Hal ini membuktikan bahwa humaniora bukan musuh teknologi, melainkan panduan agar teknologi digunakan secara bijak.

Dikutip dari berbagai sumber pengamat digital, fenomena chatbot yang mampu merespons keluh kesah manusia dengan kalimat menenangkan sering kali mengecoh. Namun, respons hangat tersebut hanyalah hasil statistik dari triliunan parameter tanpa adanya pengalaman batin yang nyata.

Empati manusia lahir dari pengalaman hidup, rasa sakit, dan ingatan akan kehilangan, sesuatu yang mustahil direplikasi oleh mesin berbasis data. Oleh karena itu, masyarakat diingatkan agar tidak terjebak dalam ilusi simulasi empati yang diciptakan oleh sistem komputer.

Selain persoalan empati, isu mengenai bias data juga menjadi perhatian serius dalam pengembangan teknologi masa kini. Angka dan data yang masuk ke dalam sistem tidak sepenuhnya objektif karena berasal dari sejarah dan keputusan manusia itu sendiri, sehingga menentukan siapa yang tercatat dan siapa yang terabaikan.

Melalui pemahaman humaniora yang mendalam, masyarakat diharapkan mampu menyikapi disrupsi digital secara kritis dan bijaksana. Pada akhirnya, teknologi canggih hanyalah alat bantu, sementara arah masa depan peradaban tetap ditentukan oleh nurani dan kebijaksanaan manusia.

Topics
humaniora artificial intelligence teknologi etika ai pendidikan uin saizu digital
Tim Jurnalis & Analis Berita

Redaksi Kabayan News adalah tim jurnalis profesional, analis, dan kreator konten yang berdedikasi menyajikan berita nasional dan internasional terlengkap. Dari berita politik breaking news hingga analisis ekonomi mendalam, kami hadir untuk masyarakat Indonesia yang cerdas dan haus akan informasi berkualitas.