Aksi pelatih baseball asal Arizona bernama Drew Breivogel mendadak viral di media sosial setelah terekam kamera televisi saat mendatangi pitcher di atas mound pada Rabu, 13 Agustus 2026. Dalam pertandingan regional Little League World Series tersebut, Breivogel memilih memberikan pesan rohani alih-alih instruksi taktis ketika timnya menghadapi situasi genting pada inning keempat.
"If you walk the next five guys Jesus is still Lord. If you strike out the next five guys, guess what? Jesus is still Lord. I love you. Have some fun," ujar Breivogel melalui pengeras suara lapangan yang tertangkap oleh mikrofon siaran langsung.
Pesan yang menyinggung kisah tokoh Alkitab tersebut disampaikan saat timnya sedang berada di bawah tekanan dengan dua pelari di base dan laga krusial menjelang eliminasi. Sebagian warganet memuji pendekatan emosional tersebut sebagai cara efektif untuk meredakan ketegangan mental anak-anak usia 12 tahun.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeNamun, tidak sedikit pula pihak melayangkan kritik tajam karena sang pelatih sama sekali tidak memberikan arahan teknik lemparan atau evaluasi posisi pemukul lawan. Akibat kurangnya strategi praktis tersebut, tim lawan dari Hawaii kemudian berhasil mencetak 4 angka pada inning yang sama dan memenangi pertandingan dengan skor 5-2.
Pro Kontra Pesan Rohani Pelatih di Tengah Lapangan
Perdebatan sengit langsung membanjiri berbagai platform digital menyusul keputusan kontroversial sang pelatih dalam memanfaatkan momen siaran televisi nasional. Sejumlah pengamat menilai bahwa pendekatan psikologis semacam itu kurang tepat diterapkan dalam turnamen tingkat tinggi seperti Little League World Series.
"How about a scouting report? Some advice about mechanics? Something that may actually help the kid learn baseball?" tulis salah seorang pengguna media sosial dalam komentar yang menuai sorotan luas.
Di sisi lain, para pendukung berpendapat bahwa atmosfer kompetisi usia dini seharusnya lebih mengutamakan aspek kegembiraan dan kesehatan mental anak di atas lapangan hijau. Tekanan masif sering kali menjadi beban berat bagi anak-anak usia 12 tahun sehingga dukungan moral dianggap jauh lebih bermakna.
Insiden unik ini sekaligus membuka diskusi panjang di kalangan pemerhati olahraga mengenai batasan peran pelatih dalam membimbing mental pemain muda pada situasi kompetitif bertekanan tinggi.