Kabar mengejutkan datang dari kancah seni rupa Yogyakarta. Galeri Seni-Seni Banyak di Jalan Taman Siswa, yang menyimpan ratusan karya lukis peninggalan almarhum Albert Gerson Unfinit atau yang akrab disapa Black Finit, terancam ditutup secara permanen akibat kendala biaya sewa bangunan.
Menanggapi ancaman tersebut, sekelompok mahasiswa asal Flores yang menempuh studi di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta tergerak untuk mengambil tindakan nyata. Mereka berinisiatif menyelamatkan situs bersejarah sekaligus tempat persemayaman karya sang seniman otodidak tersebut dengan menggelar sebuah acara solidaritas.
Sebagaimana diwartakan oleh media massa, para pemuda ini menginisiasi konser amal bertajuk Tuan Pesta – Nyanyian Seribu Bintang. Acara penggalangan dana ini dijadwalkan berlangsung di Bukit Pangol Raya, Yogyakarta, dan diramaikan oleh deretan musisi lintas genre mulai dari folk, indie, hingga reggae.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeTidak hanya menyuguhkan pertunjukan musik, acara tersebut juga menghadirkan sesi seni tato handpoke sebagai bentuk perayaan ragam ekspresi kreatif. Seluruh hasil dari perhelatan amal ini nantinya akan dialokasikan secara utuh guna memperpanjang kontrak sewa gedung serta merenovasi ruang pameran tersebut.
Semasa hidupnya, Black Finit dikenal sebagai musisi reggae sekaligus perupa jalanan asal Maumere yang mendedikasikan seluruh ruang hidupnya untuk berkarya. Bangunan kontrakan yang kini terancam hilang tersebut dulunya tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, melainkan juga kanvas raksasa tempat ia menorehkan karya-karyanya di dinding, kayu, hingga kaca.
Meski galeri sempat vakum dan ditutup beberapa waktu lalu, semangat anak-anak muda Flores ini berhasil menghidupkan kembali harapan untuk merawat arsip sang seniman. Langkah kolektif ini membuktikan bahwa kecintaan terhadap seni mampu merajut solidaritas demi menjaga warisan kultural agar tetap abadi di Kota Gudeg.