Gelombang kritik publik terhadap perilaku pamer kemewahan atau flexing keluarga pejabat kembali menelan korban di lingkup birokrasi. Berdasarkan laporan resmi, dr. Nevirizal yang menjabat sebagai Asisten Pemerintahan, Keistimewaan Aceh, dan Kesejahteraan Rakyat (Asisten I) Setdakab Gayo Lues secara mengejutkan mengajukan pengunduran diri dari jabatannya pada Kamis (23/7/2026). Langkah drastis ini diambil setelah aksi viral putrinya, Dea Arranoya, memicu kemarahan warganet akibat perilaku flexing dan tuduhan penimbunan bahan bakar minyak (BBM).
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Menurut keterangan resmi yang disampaikan dalam surat pengunduran dirinya kepada Pemerintah Kabupaten Gayo Lues, Nevirizal mengungkapkan bahwa keputusan tersebut diambil secara matang sebagai bentuk tanggung jawab moral seorang pejabat publik. Ia merasa kehebohan yang melibatkan anggota keluarganya berpotensi merusak integritas lembaga dan mereduksi tingkat kepercayaan masyarakat terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah.
Berdasarkan analisis pengamat birokrasi, mundurnya Nevirizal menjadi sinyal kuat bahwa tekanan publik terhadap akuntabilitas dan gaya hidup pejabat beserta keluarganya kini semakin efektif. Fenomena pamer kekayaan di media sosial tidak lagi sekadar urusan pribadi, melainkan dapat berakibat fatal pada karier politik dan administrasi seorang pejabat negara. Kasus penimbunan BBM yang turut disorot warganet kian memperberat posisi Nevirizal di mata publik.
Sebelum diterpa skandal akibat aksi sang putri, pria kelahiran Aceh Tenggara pada 9 November 1967 ini dikenal memiliki rekam jejak akademis dan karier birokrasi yang amat mengesankan. Nevirizal merupakan lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara (UISU). Tak cukup di situ, ia juga merengkuh dua gelar magister sekaligus, yakni Magister Kesehatan (M.Kes.) dari Universitas Sumatera Utara (USU) serta Magister Hukum Kesehatan (M.H.Kes.) dari Universitas Pembangunan Panca Budi (UNPAB).
Sebagaimana dicatat dalam riwayat hidupnya, karier Nevirizal diawali sebagai Kepala Puskesmas di Aceh Tengah pada periode 1996 hingga 2004. Pengabdiannya berlanjut saat dipercaya memimpin Dinas Kesehatan hingga menduduki berbagai posisi strategis di Pemkab Gayo Lues dan Pemerintah Aceh. Selain itu, ia juga sempat menjabat sebagai Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Aceh Tengah pada tahun 2000, yang menegaskan rekam jejak panjangnya sebagai tenaga medis senior sebelum akhirnya memilih mundur dari kursi kepemerintahan.