Peneliti keamanan siber mengungkapkan adanya dua celah serangan denial-of-service baru bernama CDN Tsunami yang mengeksploitasi cara kerja jaringan pengiriman konten atau content delivery networks dalam mengonversi lalu lintas HTTP/3 dari klien menjadi permintaan HTTP/1.1 ke server asal. Berdasarkan laporan, serangan ini mampu melipatgandakan aliran permintaan berbandwidth rendah hingga 350 kali lipat menuju server target tanpa memerlukan konfigurasi khusus dari pemilik website.
Analisis Kabayan News mencatat bahwa celah keamanan tersebut telah diuji terhadap enam penyedia layanan CDN terkemuka dunia, yakni Alibaba, Baidu, Cloudflare, Amazon CloudFront, Fastly, serta Tencent. Dari pengujian itu, keenam platform terbukti rentan terhadap varian amplifikasi bandwidth, sementara lima di antaranya rentan terhadap varian koneksi kecuali Cloudflare yang melakukan penyangga permintaan secara utuh sebelum membuka sambungan.
Menurut keterangan para peneliti dari berbagai universitas dunia, teknik serangan ini terbagi menjadi dua metode utama yaitu HTTP/3 Bandwidth Amplification dan HTTP/3 Connection Amplification. Metode pertama memanfaatkan kompresi header QPACK, di mana CDN harus memperluas setiap indeks kecil menjadi header mentah penuh yang membuat konsumsi bandwidth di server asal melonjak drastis melampaui 100 Mbps.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSejumlah vendor seperti Baidu dan Tencent dilaporkan telah mengonfirmasi temuan tersebut serta menerapkan perbaikan yang diperlukan pada sistem mereka. Kendati belum ada laporan eksploitasi di dunia nyata maupun penetapan nomor CVE, temuan ini rencananya bakal dipresentasikan secara resmi dalam Symposium on Reliable Distributed System di Roma pada September 2026 mendatang.