Aturan Awaab's Law di sektor perumahan sosial akan mengalami perluasan cakupan yang signifikan mulai 30 November mendatang. Berdasarkan pengamatan media online, regulasi ketat yang sebelumnya berfokus pada masalah kelembapan dan jamur kini diperluas ke berbagai jenis bahaya properti lainnya.
Batas waktu penanganan yang mencakup waktu 24 jam, 10 hari kerja, dan lima hari kerja kini berlaku untuk masalah suhu ekstrem, risiko jatuh, keruntuhan struktural, kebakaran, bahaya kelistrikan, hingga kebersihan domestik. Aturan ini sementara waktu masih diberlakukan khusus bagi tuan tanah di sektor perumahan sosial.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeManaging Director Timberwise, George Edwards, menyatakan bahwa struktur waktu tersebut tetap sama namun cakupan bahayanya kini menjadi jauh lebih luas. "Kerusakan pagar tangga, kerusakan ketel uap, hingga alarm asap tidak berfungsi kini masuk ke dalam cakupan regulasi," ujarnya.
Edwards menambahkan bahwa panduan baru ini sangat menitikberatkan pada penilaian awal saat laporan kerusakan pertama kali diterima daripada proses perbaikan fisiknya. Petugas perumahan dituntut memahami kondisi kesehatan atau kerentanan penyewa sejak panggilan pertama masuk agar tenggat waktu berikutnya tidak terganggu.
Terkait masalah jamur dan kelembapan, regulasi tahap kedua ini menegaskan bahwa pemilik properti tidak boleh hanya memberikan solusi sementara seperti penggunaan dehumidifier. Berdasarkan analisis media online, tuan tanah diwajibkan menuntaskan akar permasalahan dalam batas waktu lima hari kerja setelah investigasi selesai.
Panduan baru tersebut juga menyertakan contoh linimasa kerja serta templat ringkasan tertulis sebagai acuan bagi pengelola properti. Dokumen ini diprediksi akan menjadi tolok ukur utama di pengadilan atau Housing Ombudsman untuk menilai kepatuhan hukum tuan tanah.