Aturan baru kemasan Uni Eropa resmi berlaku pada Rabu untuk menetapkan batas tegas terhadap penggunaan PFAS atau bahan kimia abadi dalam kemasan makanan sekaligus memangkas timbunan sampah plastik di kawasan tersebut.
Regulasi ini merombak aturan lama dari era 1990-an guna merespons lonjakan limbah kemasan yang meningkat lebih dari 20% dalam dekade terakhir akibat maraknya tren belanja online serta gaya hidup praktis masyarakat.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeBerdasarkan laporan pengamatan Kabayan News, sektor kemasan menyumbang sekitar 40% dari total konsumsi plastik di Eropa, sehingga memicu kerentanan ekonomi terhadap potensi krisis pasokan minyak global.
Data Eurostat menunjukkan setiap warga Eropa menghasilkan 180 kilogram sampah kemasan per tahun, di mana 35,3 kilogram merupakan plastik berbahan bakar fosil dan tingkat daur ulang baru mencapai 42% pada 2023.
Langkah awal regulasi ini berfokus pada penerapan batas maksimal kandungan PFAS serta kewajiban produsen menyediakan informasi pelacakan sumber kemasan demi mengantisipasi risiko pencemaran lingkungan.
Meskipun bahan kimia PFAS sangat diandalkan untuk menolak air dan minyak pada wadah makanan siap saji, zat tersebut tidak dapat terurai secara alami dan memicu berbagai masalah kesehatan serius bagi manusia.
Uni Eropa menargetkan pengurangan sampah sebesar 5% pada 2030 dan 15% pada 2040 dibandingkan level 2018, disertai pengetatan aturan ekspor limbah plastik agar dikelola secara berkelanjutan.