Badan Gizi Nasional meminta guru dan tenaga kependidikan ikut mengonsumsi Makan Bergizi Gratis bersama siswa. Langkah strategis tersebut dihadirkan untuk memperkuat pengawasan sekaligus mencegah makanan tidak layak konsumsi sampai ke tangan peserta didik.
Kepala Badan Gizi Nasional Sudaryono menyatakan guru memiliki posisi sentral dalam pelaksanaan program di sekolah. Selain mengedukasi pola makan sehat, tenaga pendidik dapat bertindak sebagai lapisan pengawasan akhir sebelum makanan dibagikan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe"Bapak ibu guru sebagai perannya kami mohon sebagai organoleptik yang terakhir," ujar Sudaryono menjelaskan peran penting guru dalam pengawasan makanan.
Pengawasan keamanan pangan sebenarnya telah melalui berbagai tahapan pemeriksaan ketat sebelum tiba di sekolah. Kendati demikian, pengecekan langsung di lingkungan sekolah tetap krusial untuk memastikan kondisi makanan benar-benar aman.
Peran PIC dan Pengetatan Keamanan Pangan Siswa
Badan Gizi Nasional menyiapkan dua orang person in charge dari unsur tenaga kependidikan di setiap sekolah. Petugas tersebut bertugas menerima pasokan makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi lalu melakukan pemeriksaan organoleptik.
Pemeriksaan dilakukan secara cermat melalui pengamatan visual, penciuman aroma, hingga pencicipan rasa makanan. Apabila ditemukan menu tidak memenuhi standar kualitas, makanan tersebut wajib dilarang untuk dibagikan kepada para siswa.
Langkah preventif ini merespons berbagai laporan dugaan kasus keracunan di sejumlah daerah setelah siswa menyantap hidangan program. Kehadiran pengawasan berlapis diharapkan mampu mengantisipasi risiko gangguan kesehatan anak.
Dengan keterlibatan aktif guru dan tenaga kependidikan, program prioritas ini dapat berjalan optimal. Tujuan peningkatan gizi anak bangsa pun tercapai tanpa mengorbankan aspek keselamatan dan kesehatan peserta didik.