Provinsi Bali kini resmi menjadi salah satu wilayah percontohan nasional untuk pelaksanaan imunisasi Human Papillomavirus (HPV) bagi anak laki-laki. Program strategis ini menyasar sekitar 29 ribu siswa kelas V sekolah dasar di seluruh kabupaten dan kota di Bali melalui Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS).
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Provinsi Bali, dr. I Gusti Ayu Raka Susanti, M.Kes., mengungkapkan bahwa hingga 12 Agustus 2026, capaian imunisasi baru menyentuh angka 5,85 persen. Meski terlihat rendah, dr. Raka menegaskan bahwa angka tersebut terus bergerak naik setiap harinya seiring berjalannya jadwal kunjungan Puskesmas ke sekolah-sekolah.
"Di bulan Agustus ini, di Bulan Imunisasi Anak Sekolah, itu sudah serentak dilakukan di semua kabupaten kota. Puskesmas mengunjungi sekolah-sekolah sesuai dengan jadwal dan kesepakatan bersama dinas pendidikan serta pihak sekolah setempat," ujar dr. Raka Susanti sebagaimana dikutip dari laporan RRI.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeDipilihnya Bali sebagai daerah percontohan bersama DKI Jakarta dan Daerah Istimewa Yogyakarta bukan tanpa alasan. Menurut dr. Raka, tingginya capaian imunisasi HPV pada anak perempuan di Bali selama tahun 2025 menjadi pertimbangan utama Kementerian Kesehatan dalam menunjuk Pulau Dewata sebagai pelopor vaksinasi HPV untuk anak laki-laki.
Perluasan cakupan imunisasi ini dilakukan untuk menekan risiko penyakit berbahaya. "Human papillomavirus merupakan virus penyebab utama kanker serviks pada perempuan dan juga menimbulkan berbagai kasus kanker pada anak laki-laki, seperti kanker anus, kanker penis, kanker orofaring, hingga kutil kelamin," jelasnya.
Di tengah jalannya program, pihak Dinas Kesehatan tetap mengantisipasi kendala berupa hoaks dan kekhawatiran orang tua. Beberapa isu keliru yang beredar menyebutkan bahwa vaksin HPV dapat memicu kemandulan. Untuk menepis keraguan tersebut, petugas kesehatan secara proaktif memberikan edukasi mendalam kepada orang tua dan pihak sekolah.
Menanggapi kekhawatiran mengenai efek samping, dr. Raka memastikan bahwa berdasarkan data selama tiga tahun pelaksanaan pada anak perempuan, Kejadian Ikutan Pascaimunisasi (KIPI) yang muncul tergolong sangat minimal. Efek yang umumnya dirasakan hanyalah nyeri ringan pada bekas suntikan atau demam sementara.
Pemerintah Provinsi Bali berkomitmen untuk terus mengawal proses vaksinasi ini hingga tuntas sesuai jadwal. Program yang menyasar anak laki-laki ini diharapkan mampu menjadi model keberhasilan bagi provinsi lain yang akan memulai program serupa pada tahun-tahun mendatang.