Mengutip laporan RRI, Gubernur Bali Wayan Koster menyatakan dukungannya secara penuh terhadap gerakan penanaman bawang putih yang diinisiasi oleh Kepolisian Republik Indonesia. Langkah strategis ini menjadi bagian penting dalam memperkuat ketahanan serta swasembada pangan nasional yang dicanangkan pemerintah.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, dukungan tersebut disampaikan Gubernur Koster saat mengikuti aksi penanaman bawang putih secara serentak di Banjar Kelodan, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar. Acara di Pulau Dewata ini juga terhubung langsung melalui Zoom dengan pusat kegiatan utama di Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, I Wayan Sunada, mengungkapkan bahwa selama ini Bali masih menghadapi tantangan kekurangan pasokan komoditas bawang putih. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, wilayahnya pada tahun ini mendapat alokasi bantuan pengembangan bawang putih seluas 125 hektare dari pemerintah pusat.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSelain bantuan pusat, Pemprov Bali juga menjalankan program reguler seluas 10 hektare guna memperkuat produksi lokal. Berdasarkan data, kebutuhan bawang putih di Bali sendiri mencapai sekitar 13 ribu ton setiap tahunnya, sehingga pengembangan lahan ini dinilai sangat krusial.
"Lahan pengembangan bawang putih tersebar di sejumlah wilayah, di antaranya Buleleng, Jembrana, dan Gianyar, di mana secara keseluruhan Bali memiliki potensi pengembangan mencapai sekitar 2.500 hektare," ujar I Wayan Sunada menjelaskan potensi daerah.
Ia menambahkan, kendala utama saat ini masih berkaitan dengan ketersediaan benih. Namun, pasokan benih dari pemerintah pusat dipastikan akan mulai berdatangan pada bulan September, sehingga proses penanaman efektif dapat segera dimulai pada Oktober mendatang.
Sebagaimana diwartakan, masifnya program pengembangan bawang putih secara bertahap ini diharapkan mampu mendongkrak produksi lokal secara signifikan. Dengan demikian, ketergantungan pasokan dari luar daerah dapat ditekan dan kebutuhan konsumsi masyarakat Bali bisa dipenuhi secara mandiri.