Kawasan JPO Taman Bojana di Kudus mendadak berubah menjadi panggung ekspresi seni yang menyita perhatian publik pada perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Berdasarkan laporan media, para seniman lokal menggelar kegiatan bertajuk "Seni Mati di Kota Sendiri #2" pada Senin (17/8/2026) malam, guna mengajak warga merenungkan kembali arah pembangunan perkotaan dan fungsi ruang publik.
Mengusung tema "Dramaturgi: Warga", acara ini menampilkan berbagai karya menarik seperti intervensi spasial dan video mapping berjudul "Tumbuh, Riuh, Rapuh" hasil kolaborasi KIM dan AODH, serta penampilan "Lidah Api" dari seniman warga Bangjo.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribePerwakilan AODH Kolektif, Elang Ade Iswara, menjelaskan bahwa pemilihan lokasi terbuka di ruang publik sengaja dilakukan agar seni bisa berinteraksi langsung dengan aktivitas keseharian masyarakat.
"Warga bukan sekadar penonton, tetapi bagian dari peristiwa seni sekaligus aktor yang turut membentuk kehidupan ruang kota," ungkap Elang.
Menurut Elang, pembangunan kota sering kali terlalu fokus pada aspek fisik semata, sementara fungsi sosial dan kultural ruang publik kerap terabaikan. Padahal, regulasi seperti UU Penataan Ruang dan UU Pemajuan Kebudayaan telah mengamanatkan pentingnya ruang hidup bagi ekspresi kebudayaan masyarakat.
Melalui pendekatan seni yang melibatkan para pejalan kaki, pedagang, hingga warga yang melintas, acara ini berhasil menjadikan arsitektur kota dan interaksi sosial sebagai bagian utuh dari pengalaman seni itu sendiri.