Kabayan News Kabayan News
/home / berita / Biaya AI Membengkak, Startup AS...
BERITA

Biaya AI Membengkak, Startup AS Mulai Beralih ke Model Asal China

By Redaksi Kabayan News • 2 min read • 23-07-2026
Ilustrasi teknologi AI dan efisiensi biaya pengembang startup

Ilustrasi teknologi AI dan efisiensi biaya pengembang startup

Pengeluaran untuk teknologi artificial intelligence (AI) kini menjadi salah satu beban keuangan terbesar bagi berbagai perusahaan di Amerika Serikat. Demi mempertahankan efisiensi operasional, sejumlah startup teknologi di kawasan Silicon Valley mulai meninggalkan model AI buatan Amerika Serikat dan beralih ke alternatif yang lebih murah dari produsen China.

Salah satu contohnya adalah Lindy.ai, startup berbasis di San Francisco yang mengembangkan asisten AI untuk mengelola email dan kalender. Pendiri Lindy.ai, Flo Crivello, mengungkapkan bahwa biaya langganan model AI dari Anthropic sempat menjadi pengeluaran terbesarnya, bahkan melebihi total gaji lebih dari dua puluh karyawan serta biaya sewa kantor.

Situasi tersebut mendorong Lindy.ai mengalihkan 100 persen lalu lintas pengembangannya ke model AI asal China, DeepSeek-V4. "Itu 10 kali lebih murah dan berhasil menghemat jutaan dolar perusahaan. Jadi, ini adalah keputusan bisnis yang sangat sederhana," ujar Flo Crivello.

Meskipun model buatan pengembang Amerika Serikat seperti OpenAI, Anthropic, dan Google masih memimpin dalam hal kapabilitas, model AI dari China seperti DeepSeek, Qwen dari Alibaba, hingga MiniMax dinilai sudah sangat memadai untuk berbagai kebutuhan teknis harian.

CEO Featherless, Eugene Cheah, menganalogikan perbedaan ini seperti kendaraan operasional. "Ini seperti perbedaan antara mengendarai Ferrari dan Honda. Anda bisa memilih mobil mewah terbaik, atau sekadar memiliki Honda dalam jumlah banyak yang bekerja dengan baik," kata Eugene Cheah.

Tren ini tidak hanya melanda startup skala kecil, tetapi juga mulai dirasakan oleh pimpinan perusahaan besar. CEO Uber, Dara Khosrowshahi, sempat menyampaikan bahwa pasukannya menghabiskan seluruh anggaran tahunan AI hanya dalam waktu satu kuartal, yang memaksa perusahaan melakukan penyesuaian strategi pengeluaran.

Platform pengagregat AI seperti OpenRouter mencatat lonjakan pangsa penggunaan model DeepSeek dari 9 persen menjadi hampir 20 persen sejak awal tahun. Penggunaan model lain dari perusahaan China seperti MiniMax, Xiaomi, dan Tencent juga terus mengalami peningkatan secara signifikan.

Kendati demikian, belum semua perusahaan tertarik untuk berpindah. Beberapa pendiri startup seperti Jon Gordner dari Comment.io memilih untuk tetap bertahan dengan model papan atas buatan AS karena mengutamakan akurasi ketimbang efisiensi biaya, meski ia tidak menampik kemungkinan untuk mempertimbangkan model AI asal China jika harga langganan lokal terus melonjak di masa depan.

Topics
artificial intelligence tech startups tech startup china silicon valley deepseek
Tim Jurnalis & Analis Berita

Redaksi Kabayan News adalah tim jurnalis profesional, analis, dan kreator konten yang berdedikasi menyajikan berita nasional dan internasional terlengkap. Dari berita politik breaking news hingga analisis ekonomi mendalam, kami hadir untuk masyarakat Indonesia yang cerdas dan haus akan informasi berkualitas.