Kabayan News Kabayan News
/home / berita / Biodata Zhao Ziyang Tokoh Reformis...
BERITA

Biodata Zhao Ziyang Tokoh Reformis dan Politikus Senior Tiongkok

By Rudi Weslan Rifadi 3 min read 11 September 2026
Zhao Ziyang, mantan Perdana Menteri Tiongkok dan tokoh kunci reformasi ekonomi

Zhao Ziyang, mantan Perdana Menteri Tiongkok dan tokoh kunci reformasi ekonomi

Zhao Ziyang lahir di Provinsi Henan pada 17 Oktober 1919 dan tumbuh menjadi salah satu tokoh politik paling berpengaruh di Republik Rakyat Tiongkok. Ia memegang jabatan-jabatan tertinggi negara, termasuk sebagai Perdana Menteri Tiongkok dari tahun 1980 hingga 1987 serta Sekretaris Jenderal Partai Komunis Tiongkok dari 1987 hingga 1989. Di bawah kepemimpinannya, Tiongkok mulai membuka diri melalui berbagai kebijakan reformasi ekonomi yang radikal dan terstruktur.

Perjalanan karier politik Zhao bermula sejak ia bergabung dengan Partai Komunis Tiongkok pada tahun 1938 dan aktif dalam berbagai posisi administratif maupun militer. Pasca berdirinya Republik Rakyat Tiongkok, ia meniti tangga kekuasaan di tingkat regional, termasuk memimpin provinsi Guangdong dan Sichuan. Pengalaman panjang dalam mengelola wilayah berpenduduk padat membentuk pandangan pragmatisnya terhadap pentingnya pemulihan ekonomi agraria.

Sebagai pemimpin yang reformis, Zhao dikenal kritis terhadap kebijakan-kebijakan ortodoks ala Mao dan berperan besar dalam merintis kapitalisme terbatas serta desentralisasi industri. Dukungannya terhadap privatisasi perusahaan negara dan pemisahan antara partai dan negara menjadikannya figur sentral dalam era modernisasi Tiongkok. Namun, karier politiknya harus berakhir tragis ketika ia menunjukkan simpati kepada para demonstran pro-demokrasi pada tahun 1989.

Akibat perannya dalam peristiwa Tiananmen 1989, Zhao dicopot dari seluruh jabatannya dan menghabiskan sisa hidupnya di bawah tahanan rumah hingga akhir hayatnya pada Januari 2005. Meskipun namanya disensor secara ketat di Tiongkok daratan, warisan pemikiran ekonomi dan reformasi politiknya tetap diakui secara global. Memoar rahasianya yang diterbitkan secara anumerta memberikan wawasan mendalam mengenai dinamika kekuasaan di lingkaran atas politik Tiongkok.

Kehidupan Awal dan Pendidikan

Zhao Ziyang lahir dengan nama Zhao Xiuye sebagai putra dari seorang tuan tanah kaya di Kabupaten Hua, Provinsi Henan. Ayahnya kemudian dibunuh oleh pejabat Partai Komunis Tiongkok selama gerakan reformasi agraria pada awal tahun 1940-an. Zhao bergabung dengan Liga Pemuda Komunis pada tahun 1932 dan resmi menjadi anggota penuh Partai Komunis Tiongkok pada Februari 1938. Ia mengubah nama kecilnya menjadi Ziyang saat menempuh pendidikan di sekolah menengah di Wuhan.

Berbeda dengan banyak pemimpin senior Tiongkok lainnya yang turut serta dalam Long March pada tahun 1934 hingga 1935, Zhao bergabung dengan partai pada periode yang sedikit lebih lambat. Selama Perang Sino-Jepang Kedua dan Perang Saudara Tiongkok berikutnya, ia mengemban berbagai tugas administratif penting di tingkat lokal dan regional. Di penghujung dekade 1930-an dan awal 1940-an, ia menjabat sebagai pemimpin partai di Kabupaten Hua, tempat di mana ia kemudian menikahi Liang Boqi pada tahun 1944.

Karier politik Zhao mulai menanjak ketika ia ditugaskan ke Provinsi Guangdong pada awal tahun 1950-an di bawah kepemimpinan Tao Zhu. Dalam masa-masa awal tersebut, ia turut terlibat dalam kebijakan pengumpulan hasil pertanian yang keras, namun di sisi lain ia juga berupaya mencari celah agar para petani dapat bertahan hidup di tengah bencana kelaparan. Pengalaman pahit selama era Lompatan Jauh ke Depan memberikan pelajaran berharga yang mendorongnya untuk mengadopsi kebijakan ekonomi yang lebih moderat.

Pada tahun 1965, Zhao diangkat menjadi Sekretaris Partai Provinsi Guangdong dalam usia yang tergolong sangat muda yaitu 46 tahun. Namun, orientasi politiknya yang cenderung moderat membuatnya menjadi sasaran empuk kemarahan para Pengawal Merah selama Revolusi Kebudayaan berlangsung. Ia dipecat dari seluruh jabatannya pada tahun 1967 dan dikirim ke pengasingan politik sebagai buruh pabrik mekanik di Hunan selama beberapa tahun.

Karier Politik dan Kontribusi

Rehabilitasi politik Zhao dimulai pada tahun 1971 ketika ia dipanggil kembali ke Beijing atas arahan Perdana Menteri Zhou Enlai. Ia kemudian dikirim ke Mongolia Dalam sebelum akhirnya dipercaya memimpin Provinsi Sichuan sebagai Sekretaris Partai pada tahun 1975. Di Sichuan, provinsi yang saat itu hancur secara ekonomi akibat gejolak politik, Zhao memperkenalkan reformasi berorientasi pasar dengan mendistribusikan lahan kepada keluarga petani dan memperbolehkan perdagangan bebas hasil panen.

Keberhasilan reformasi di Sichuan, yang melahirkan ungkapan populer di kalangan warga setempat untuk mencari Ziyang demi mendapatkan makanan, menarik perhatian Deng Xiaoping. Model reformasi tersebut kemudian diadopsi secara nasional sebagai landasan kebijakan "reformasi dan keterbukaan" Tiongkok. Pada tahun 1980, Zhao diangkat menjadi Perdana Menteri Tiongkok dan memimpin berbagai langkah deregulasi ekonomi, privatisasi terbatas, serta peningkatan perdagangan luar negeri.

Puncak karier politiknya tercapai saat ia menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Partai Komunis Tiongkok pada tahun 1987, di mana ia memprakarsai reformasi struktural untuk merampingkan birokrasi dan memberantas korupsi. Kendati demikian, perbedaan pandangan mengenai penanganan krisis politik serta simpatinya terhadap gerakan mahasiswa di Lapangan Tiananmen pada tahun 1989 membuatnya berselisih dengan para pemimpin senior lainnya. Akibat penolakannya terhadap penggunaan kekuatan militer yang berlebihan, ia dilengserkan dari kekuasaan dan dikenai tahanan rumah seumur hidup.

Meskipun diisolasi secara politik hingga akhir hayatnya pada Januari 2005, kontribusi Zhao Ziyang terhadap transformasi ekonomi Tiongkok modern tetap diakui dunia internasional. Pemikirannya yang kian mengarah pada dukungan terhadap demokrasi liberal di masa-masa akhir hidupnya mempertegas perannya sebagai salah satu tokoh paling transformatif sekaligus tragis dalam sejarah modern Tiongkok. Warisan kebijakannya terus dikaji oleh para sejarawan sebagai fondasi penting bagi kebangkitan ekonomi Tiongkok di panggung global.

Topics
politik reformasi ekonomi tiongkok biografi tokoh nasional
Jurnalis Senior

Rudi Weslan Rifadi adalah jurnalis berpengalaman dengan dedikasi tinggi dalam menyajikan berita akurat dan mendalam. Dengan latar belakang yang kuat di bidang jurnalistik, ia telah meliput berbagai peristiwa penting dan menyajikannya dengan gaya penulisan yang tajam serta analitis.