Charles Dickens merupakan sastrawan legendaris asal Inggris yang namanya melegenda hingga saat ini. Pria kelahiran Portsmouth, Hampshire, 7 Februari 1812 ini dikenal sebagai salah satu novelis terbesar era Victoria dengan karya-karya yang tak lekang dimakan zaman.
Dickens memulai karier sastranya sebagai jurnalis sebelum meraih kesuksesan lewat serial The Pickwick Papers pada 1836. Kesuksesan ini menjadikannya selebritas sastra internasional dalam waktu singkat, berkat humor, sindiran, serta pengamatannya yang tajam terhadap karakter dan masyarakat.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeHidup Dickens tidak selalu mulus. Ia terpaksa meninggalkan sekolah di usia 12 tahun dan bekerja di pabrik semir sepatu selama 10 jam sehari demi membantu keluarga setelah ayahnya dipenjara karena utang. Pengalaman pahit inilah yang kemudian memengaruhi karya-karyanya yang kritis terhadap ketimpangan sosial.
A Christmas Carol yang terbit pada 1843 menjadi salah satu karyanya yang paling populer dan terus menginspirasi berbagai adaptasi di berbagai medium. Novel ini bersama Oliver Twist dan Great Expectations kerap digambarkan sebagai cerminan kehidupan London di era Victoria.
Perjalanan Hidup Charles Dickens dari Masa Sulit hingga Puncak Karier
Dickens dikenal sebagai pelopor penerbitan fiksi berseri yang menjadi mode dominan pada masanya. Ia meninggal dunia pada 9 Juni 1870 dalam usia 58 tahun, namun warisan sastranya tetap hidup dan terus dikenang di seluruh dunia.
Masa kecil Charles Dickens tidak seindah karya-karyanya. Ayahnya, John Dickens, harus mendekam di penjara utang pada 1824 sehingga Charles kecil terpaksa bekerja di pabrik semir sepatu Warren's Blacking Warehouse demi membantu keuangan keluarga.
Pengalaman bekerja di lingkungan kotor dan penuh tikus itu meninggalkan luka mendalam yang kemudian ia tuangkan dalam berbagai karyanya. Ia bahkan mengabadikan nama rekan kerjanya, Bob Fagin, sebagai karakter dalam novel Oliver Twist.
Meski sempat putus sekolah, Dickens kembali mengenyam pendidikan setelah tiga tahun dan memulai karier sebagai jurnalis. Bakat menulisnya semakin terasah hingga melahirkan 15 novel, 5 novel pendek, ratusan cerita pendek, serta artikel nonfiksi selama hidupnya.