Parada Harahap merupakan seorang jurnalis dan penulis pelopor asal Indonesia yang lahir di Pargarutan, Sipirok, pada 15 Desember 1899. Semasa era kolonial tahun 1930-an, ia mendapatkan julukan prestisius sebagai King of the Java Press karena jasanya merintis surat kabar berbahasa Melayu yang netral secara politik.
Perjalanan karier jurnalistiknya bermula ketika ia bekerja di perkebunan sebelum akhirnya bergabung sebagai staf redaksi surat kabar Benih Merdeka. Ia dikenal berani membongkar kekejaman aturan Poenale sanctie terhadap kuli kontrak melalui tulisan-tulisannya yang kritis.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeKepiawaiannya dalam dunia tulis-menulis membawanya memimpin berbagai media massa seperti Sinar Merdeka dan majalah Poestaha. Akibat sikap kritisnya terhadap kebijakan pemerintahan kolonial Belanda, ia tercatat pernah berkali-kali menghadapi delik pers serta keluar masuk penjara.
Memasuki tahun 1922, ia pindah ke Jakarta dan aktif menerbitkan sejumlah media mingguan seperti Bintang Hindia dan Bintang Timur. Perannya dalam sejarah bangsa semakin diakui ketika ia terpilih sebagai satu-satunya anggota BPUPKI yang berasal dari kalangan masyarakat Batak menjelang kemerdekaan.
Jejak Perjuangan dan Kiprah di Dunia Pers
Kecintaan Parada Harahap pada dunia literasi sudah tumbuh sejak usia anak-anak berkat kegemarannya membaca koran dan majalah kiriman sang kakak. Berbekal ketekunan belajar secara mandiri, ia menguasai bahasa Belanda dan mendalami dinamika pemberitaan masa itu.
Selama memimpin surat kabar di daerah asalnya, ia tidak gentar menyuarakan kritik tajam terhadap kesewenang-wenangan aparat kolonial Belanda di Hindia Belanda. Keteguhan prinsip tersebut membuatnya harus mendekam di balik jeruji besi akibat berbagai delik pers yang menjeratnya.
Selain aktif menulis dan memimpin redaksi surat kabar Sinar Baroe pada masa pendudukan Jepang, ia juga menorehkan sejarah sebagai pendiri akademi wartawan pertama di Jakarta. Dedikasinya di bidang jurnalistik mengangkat martabat pers pribumi pada masanya.
Parada Harahap menghembuskan napas terakhirnya pada 11 Mei 1959, meninggalkan warisan pemikiran dan kontribusi besar bagi perkembangan dunia pers serta kemerdekaan Indonesia.