Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Makassar resmi meluncurkan inovasi baru bernama SIGAP PESISIR (Sistem Integrasi Gerakan Adaptif Pesisir). Langkah taktis ini diambil demi mempercepat penanganan kondisi darurat dan kebencanaan yang kerap melanda kawasan pesisir di Kota Daeng. Lewat sistem terintegrasi ini, waktu respons penanganan bencana ditargetkan pangkas habis dari rata-rata 90 menit menjadi hanya 15 menit.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Kepala Pelaksana BPBD Kota Makassar, Muhammad Fadli Tahar, menjelaskan bahwa inovasi tersebut dirancang khusus untuk menyatukan seluruh proses penanganan bencana dalam satu sistem kerja yang solid. Proses tersebut dimulai dari sistem pelaporan, koordinasi antar-lembaga, pengambilan keputusan, hingga mobilisasi personel ke lapangan.
"SIGAP PESISIR dirancang untuk menyatukan seluruh pemangku kepentingan dalam satu sistem kerja yang terintegrasi. Mulai dari pelaporan, koordinasi, pengambilan keputusan hingga pengerahan personel dilakukan secara lebih cepat, terukur dan efektif," ungkap Fadli dalam keterangannya, Jumat, 17 Juli 2026.
Fadli memaparkan, kawasan pesisir Makassar memiliki tingkat kerawanan yang cukup tinggi terhadap berbagai ancaman bencana, seperti banjir rob, gelombang ekstrem, abrasi pantai, cuaca buruk, hingga kecelakaan perairan. Atas dasar itulah, BPBD Makassar menyusun standar operasional prosedur (SOP) baru agar jalur koordinasi lintas instansi bisa berjalan kilat tanpa terhambat urusan birokrasi.
Tak hanya fokus pada kecepatan respons aparat pemerintah, program SIGAP PESISIR juga menitikberatkan pada pemberdayaan masyarakat lokal. Warga di kawasan pesisir bakal dibekali pelatihan penyelamatan dasar. Harapannya, masyarakat memiliki kapasitas untuk melakukan tindakan penyelamatan awal yang krusial sebelum tim penolong tiba di lokasi.
"Kami berharap SIGAP PESISIR dapat menjadi model penanganan kebencanaan berbasis kolaborasi yang nantinya dapat direplikasi oleh daerah pesisir lainnya," tambah Fadli.
Di samping itu, BPBD Makassar juga melakukan langkah masif dengan menggandeng 23 perguruan tinggi di Kota Makassar untuk memperkuat kesiapsiagaan bencana. Kolaborasi besar ini menargetkan pencetakan sedikitnya 23.000 mahasiswa sebagai relawan terlatih yang menguasai kemampuan dasar kebencanaan.
Para mahasiswa tersebut akan dibekali berbagai keahlian penting seperti vertical rescue, water rescue, medical rescue, manajemen bencana, hingga pertolongan pertama. Program pelatihan ini bahkan sudah mulai berjalan, salah satunya melibatkan sekitar 500 mahasiswa dari Institut Kesehatan Pelamonia Makassar.
"Target kami sedikitnya ada 23 ribu mahasiswa yang memiliki kemampuan dasar kebencanaan sehingga menjadi sumber daya siap pakai ketika terjadi bencana," tegas Fadli.
Selain penanganan wilayah pesisir, BPBD Makassar saat ini juga tengah siaga mengantisipasi potensi bencana kekeringan akibat fenomena El Nino. Berdasarkan asesmen sementara, diperkirakan ada sekitar 50 ribu jiwa di enam kecamatan yang berpotensi mengalami krisis air bersih.
Fadli menjelaskan status penanganan kekeringan ini akan ditentukan setelah rapat koordinasi bersama seluruh pemangku kepentingan. Jika status tanggap darurat resmi ditetapkan, BPBD akan segera menyalurkan bantuan air bersih secara masif menggunakan mobil tangki dan tandon air.
Saat ini, BPBD Makassar telah menyiagakan 57 unit tandon air dan siap menambah jumlahnya jika kondisi di lapangan kian memburuk. Penanganan kekeringan ini dipastikan berjalan terpadu melibatkan sinergi dari BMKG, Basarnas, Perumda Air Minum (PDAM) Makassar, hingga Dinas Pemadam Kebakaran demi memastikan distribusi bantuan tepat sasaran.