Budaya belajar yang berorientasi semata pada nilai rapor kini menjadi tantangan besar dalam sistem pendidikan modern. Dari pantauan tim redaksi, tidak sedikit siswa yang rela berada di bawah tekanan akademis tinggi hanya demi menghindari nilai rendah, alih-alih fokus pada pemahaman materi pelajaran secara mendalam.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Isu krusial ini mengemuka dalam siaran Majalah Udara Beranda Astacita bertajuk "Belajar Cerdas Bukan Sekadar Mengejar Nilai" di Studio Pro 1 RRI Mataram pada Rabu sore (22/7/2026). Dialog interaktif tersebut menghadirkan narasumber Sudomo, S.Pd., seorang tenaga pendidik dari SMPN 3 Lingsar.
Topik tersebut dinilai sangat relevan usai seluruh instansi sekolah menyelesaikan rangkaian Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dan memulai kegiatan belajar mengajar secara efektif. Menurut Sudomo, terdapat perbedaan mendasar antara siswa yang berorientasi pada angka dengan mereka yang menerapkan strategi belajar cerdas.
"Anak-anak yang belajar hanya untuk mengejar nilai biasanya belum belajar secara mendalam. Mereka lebih banyak menghafal. Berbeda dengan siswa yang sadar apa yang dipelajari, mengapa harus belajar, dan apa manfaat yang akan diperoleh dari materi tersebut," ujar Sudomo saat memberikan keterangan.
Berdasarkan pengamatan tim redaksi di lingkungan sekolah, dominasi pola pikir yang berorientasi pada nilai bahkan masih mencapai lebih dari 50 persen. Orientasi berlebihan ini memicu rasa takut gagal sehingga siswa belajar dalam kondisi tertekan dan berisiko memicu perilaku negatif seperti menyontek.
Sudomo mencontohkan pengalamannya saat memberikan tugas berbasis kreativitas digital kepada peserta didik. "Padahal sebelum dijelaskan detail tugasnya, mereka sudah bertanya apakah ada nilainya. Seharusnya yang ditanyakan adalah bagaimana cara membuat vlog atau video yang baik. Ini menunjukkan bahwa fokus mereka masih pada nilai," ungkapnya.
Menurut Sudomo, pola pikir ini juga dipengaruhi oleh ekspektasi lingkungan keluarga. Banyak orang tua masih menjadikan nilai rapor sebagai tolok ukur utama keberhasilan anak, padahal Kurikulum Merdeka menekankan bahwa setiap anak memiliki kecerdasan serta keunggulan yang berbeda-beda.
Meski demikian, angka akademis tetap menjadi instrumen evaluasi yang penting untuk mengukur tingkat pemahaman. "Kalau siswa mendapatkan nilai 90 karena benar-benar memahami materi yang dipelajari, tentu tidak ada masalah. Yang penting siswa sadar sedang belajar apa dan memahami prosesnya," tegas Sudomo menutup pembicaraan.