Aktivitas scrolling Instagram selama 15 menit secara pasif terbukti memengaruhi kinerja otak serta fungsi kognitif seseorang saat kembali melakukan tugas harian. Berdasarkan pengamatan Kabayan News dari laporan Springer Nature, kebiasaan singkat yang sering dianggap sepele ini ternyata meninggalkan jejak nyata pada aktivitas saraf manusia.
Para peneliti menggunakan teknologi pemindaian otak portabel bernama functional near-infrared spectroscopy atau fNIRS untuk memantau perubahan aliran darah beroksigen di area prefrontal cortex. Berbeda dari metode konvensional, eksperimen ini dilakukan dalam pengaturan naturalistik agar partisipan dapat membuka akun Instagram pribadi mereka secara langsung.
Hasil analisis menunjukkan partisipan mengalami penurunan performa pada aspek inhibitory control setelah terpapar media sosial dibandingkan kelompok kontrol yang melihat gambar alam. Sebagaimana dilaporkan dalam studi tersebut, partisipan menjadi lebih sulit menahan respons impulsif ketika dihadapkan pada tugas yang membutuhkan konsentrasi tinggi.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSelain perubahan perilaku, pemindaian saraf memperlihatkan peningkatan aktivitas pada medial prefrontal cortex yang mengatur regulasi usaha kognitif. Di sisi lain, penurunan aktivitas justru terlihat pada area dorsolateral prefrontal cortex dan inferior frontal gyrus yang memegang peran penting dalam memori kerja.
Kendati demikian, para peneliti menegaskan bahwa temuan ini tidak serta-merta menyimpulkan media sosial merusak otak secara permanen karena sampel penelitian masih terbatas pada mahasiswa. Mengutip laporan terkait, diskusi mengenai perilaku digital kini perlu diperluas mencakup jenis konten, durasi, serta pola interaksi yang dilakukan pengguna setiap hari.