Memasuki usia sekolah, kebiasaan makan dan minum anak biasanya mengalami perubahan signifikan. Sebagaimana diwartakan oleh media massa, anak-anak mulai meninggalkan susu dan beralih ke minuman berasa seperti teh kemasan atau minuman ringan.
Perubahan preferensi ini seringkali dianggap sebagai fase tumbuh kembang biasa. Namun, orang tua diimbau tetap waspada terhadap kecukupan nutrisi harian anak, khususnya asupan asam lemak esensial seperti Docosahexaenoic Acid atau DHA yang krusial untuk fungsi otak.
Berdasarkan laporan studi dalam British Journal of Nutrition pada tahun 2016, terungkap fakta mengejutkan bahwa sekitar 8 dari 10 anak Indonesia usia 4 hingga 12 tahun memiliki asupan EPA dan DHA di bawah standar minimum rekomendasi FAO dan WHO.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeDokter Spesialis Anak, dr. Shyrien Amalina MSc, SpA, menjelaskan bahwa kecukupan asam lemak esensial seperti AA dan DHA sangat penting untuk mendukung proses pembelajaran serta pematangan fungsi otak anak usia sekolah.
Mengutip penjelasan dr. Shyrien, proses mielinisasi korteks prefrontal yang mengatur atensi, perencanaan, dan pengambilan keputusan masih terus berlangsung hingga remaja. Asupan yang memadai akan mengoptimalkan konsentrasi, regulasi emosi, serta memori.
Salah satu tantangan terbesar bagi orang tua adalah kondisi kekurangan DHA yang kerap tidak kasat mata. Anak tetap tampak aktif beraktivitas dan bersekolah seperti biasa, sehingga orang tua sering kali tidak menyadari adanya celah nutrisi pada pola makan buah hati mereka.
Melalui edukasi yang tepat, diharapkan para orang tua dapat lebih cermat mengawasi asupan gizi harian. Memastikan anak mendapatkan sumber nutrisi seimbang menjadi kunci utama agar tumbuh kembang dan potensi kognitif mereka terjaga secara optimal.