Berdasarkan laporan dari media Göteborgs-Posten, seorang kakek sempat mengeluhkan kesulitan saat harus memahami setiap kata yang diucapkan oleh cucu-cucunya sendiri. Ia merasa anak-anak muda saat ini berbicara terlalu cepat bak peluru dari senjata otomatis, sehingga membuat alat bantu dengar pun terasa kurang optimal.
Mengutip penjelasan dari Profesor Emeritus Bahasa Swedia, Lars-Gunnar Andersson, fenomena tersebut sangat lumrah terjadi seiring bertambahnya usia manusia. Masalah utama para lansia ternyata bukan terletak pada volume atau kerasnya suara, melainkan kemampuan diskriminasi untuk membedakan berbagai macam bunyi bahasa.
Dalam artikel tersebut dijelaskan bahwa konsonan tertentu seperti huruf f, s, sje, dan tje memiliki frekuensi tinggi yang sangat sulit dibedakan oleh telinga orang tua. Akibatnya, komunikasi sehari-hari sering kali diwarnai oleh proses menebak kata, yang tak jarang berujung pada kesalahpahaman lucu.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSelain faktor usia, gaya bicara generasi muda yang gemar menyingkat kata dan mempercepat tempo juga memperparah situasi komunikasi lintas generasi. Semakin cepat seseorang berbicara, semakin banyak pula bunyi huruf yang sengaja diabaikan atau disingkat.
Oleh karena itu, kunci utama agar komunikasi tetap terjalin harmonis adalah adanya kerja sama yang baik antara penutur dan pendengar. Mengingatkan anak muda untuk berbicara sedikit lebih pelan dan jelas adalah solusi terbaik agar hubungan antar generasi tetap erat.