Mengutip laporan media Suara.com, Indonesia kini tengah menghadapi tantangan berat akibat penguatan fenomena El Nino yang bertepatan dengan puncak musim kemarau 2026. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, kondisi atmosfer saat ini semakin mendukung cuaca kering, yang kemudian memicu kekeringan luas serta peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan di berbagai daerah.
Sebagaimana diwartakan, nilai indeks Nino 3.4 dasarian tercatat sebesar +2,26 dengan Southern Oscillation Index sebesar -28,2, menandakan berlangsungnya El Nino kuat yang masih berpotensi mengalami penguatan. BMKG menjelaskan bahwa fenomena iklim ini secara signifikan mengurangi pembentukan awan hujan, sehingga sekitar 91,43 persen wilayah Indonesia mengalami curah hujan dengan kategori rendah pada Dasarian I Agustus 2026.
Dampak dari cuaca ekstrem ini mulai dirasakan secara nyata oleh sektor pertanian nasional. Berdasarkan laporan, kekeringan akibat El Nino memberikan tekanan berat bagi para petani tanaman pangan serta mengancam produksi komoditas penting seperti kopi robusta di Indonesia dan Vietnam. Sebaliknya, kondisi kering berkepanjangan ini justru menjadi berkah tersendiri bagi para petani garam di Cirebon yang mencatatkan lonjakan produksi drastis.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSelain sektor pertanian, ancaman serius juga terlihat pada sektor kehutanan dengan meluasnya titik panas dan karhutla di sejumlah wilayah seperti Kalimantan Barat, Papua Selatan, dan Riau. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyatakan bahwa indeks El Nino pada pertengahan Agustus ini telah melampaui level tahun 2015, meskipun luas lahan terdampak sepanjang Januari hingga Juli 2026 yang mencapai 202.004 hektare masih lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada tahun tersebut.
Menanggapi situasi ini, Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menegaskan bahwa tantangan utama Indonesia adalah bertemunya El Nino intensitas sangat kuat dengan musim kemarau. "Perlu digarisbawahi bahwa dampaknya ke Indonesia terjadi ketika El Nino bertemu langsung dengan musim kemarau. Meskipun El Nino terus berlangsung hingga awal 2027, dampak utamanya terfokus pada periode musim kemarau di wilayah Indonesia," ungkap Ardhasena sebagaimana dikutip dari laporan Suara.com.