Berdasarkan laporan media, hujan lebat yang mengguyur Kota Padang pada 14 Agustus 2026 kembali memicu luapan air pada sistem jaringan sungai Batang Kuranji serta merendam beberapa wilayah permukiman dataran rendah di sekitarnya.
Menurut catatan Stasiun Arau, presipitasi berlangsung selama tujuh jam nonstop dengan akumulasi tinggi hujan mencapai 132,5 mm, yang secara hidrologi tergolong dalam kategori hujan lebat.
Mengutip analisis Guru Besar Teknik Sipil Universitas Andalas, Mas Mera, terdapat temuan menarik mengenai dinamika hidro-sedimentologi pasca-banjir di segmen hilir Batang Kuranji.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSebagaimana diwartakan, endapan sedimen setelah banjir 14 Agustus justru tercatat jauh lebih sedikit dibandingkan kondisi pasca-banjir ekstrem yang terjadi pada 3 Agustus 2026 sebelumnya.
Temuan komparatif tersebut mengonfirmasi bahwa aliran Batang Kuranji masih mempunyai gaya dorong alir yang efektif untuk menjalankan proses pembilasan alami atau self-flushing ke laut.
Oleh karena itu, pengerukan mekanis di badan sungai utama dinilai belum mendesak, sementara prioritas utama justru harus dialihkan pada pembukaan dan penataan mulut Muara Batang Kuranji.