Masjid Qiblatain di Madinah menyimpan catatan sejarah yang mendalam mengenai ketaatan mutlak seorang hamba kepada Sang Pencipta. Berdasarkan laporan RRI Surabaya, Ustaz H. Moenir selaku Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama Kota Surabaya menjelaskan bahwa masjid yang dulunya bernama Masjid Bani Salamah ini menjadi saksi bisu perpindahan arah kiblat umat Islam.
Peristiwa bersejarah tersebut terjadi ketika Rasulullah SAW bersama para sahabat tengah menunaikan salat Zuhur. Di tengah ibadah, turun wahyu dari Allah SWT yang memerintahkan pengalihan arah kiblat dari Baitul Maqdis di Palestina menuju Ka'bah di Masjidil Haram, Mekkah, setelah sebelumnya menghadap kiblat pertama selama belasan bulan.
"Perubahan kiblat ini didasarkan pada perintah dan wahyu dari Allah Subhanahu wa Ta'ala, bukan semata-mata karena keinginan atau kemauan Nabi," ujar Ustaz H. Moenir dalam program siaran Pro 4 RRI Surabaya pada Kamis 20 Agustus 2026.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeLebih lanjut, ia menerangkan bahwa momentum perubahan kiblat merupakan bentuk seleksi keimanan untuk menguji siapa yang benar-benar taat kepada Rasulullah SAW. Sikap para sahabat yang langsung mengubah arah salat menjadi teladan nyata bahwa seorang mukmin harus senantiasa menerapkan prinsip sami'na wa atha'na atau mendengar dan taat ketika dihadapkan pada perintah Allah.
Selain kepatuhan fisik, Ustaz H. Moenir mengingatkan bahwa esensi kiblat sesungguhnya juga menyangkut orientasi hati manusia. Ketika raga menghadap ke Ka'bah, hati dan seluruh tujuan hidup seorang Muslim harus senantiasa tertuju kepada Allah SWT, bukan kepada urusan duniawi semata.
Melalui kisah Masjid Qiblatain, umat Islam diajak untuk terus mengevaluasi diri, meninggalkan kebiasaan buruk, serta menjadikan ketaatan kepada Allah sebagai prioritas utama dalam menjalani kehidupan sehari-hari.