Suasana khidmat sekaligus semarak menyelimuti ruas Jalan Pandanaran, Boyolali, tatkala jemaat Gereja Sidang Jemaat Allah (GSJA) Immanuel menggelar perayaan hari kemerdekaan. Berdasarkan laporan media, rangkaian acara tersebut diisi dengan aksi spektakuler berupa pembentangan bendera Merah Putih raksasa sepanjang 81 meter tepat di depan area gereja.
Berdasarkan pantauan di lapangan, aksi membentangkan bendera raksasa yang diiringi lantunan lagu kebangsaan Indonesia Raya ini berhasil mencuri perhatian pengguna jalan dan masyarakat sekitar. Kegiatan tersebut diselenggarakan tidak hanya untuk memperingati HUT ke-81 RI, tetapi juga bertepatan dengan perayaan hari ulang tahun gereja yang ke-54.
Mengutip laporan media, panitia kegiatan Suwarto menjelaskan bahwa pemilihan angka 81 meter disesuaikan langsung dengan usia kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini. Melalui momentum tersebut, pihaknya mengajak seluruh elemen masyarakat untuk senantiasa mengenang jasa para pahlawan yang telah berjuang merebut kemerdekaan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSebagaimana diwartakan, perayaan ini mengangkat tema kebinekaan yang kuat dengan melibatkan partisipasi aktif seluruh jemaat tanpa terkecuali. Terlihat para jemaat tampil mengenakan busana adat dari berbagai daerah di Nusantara sebagai simbol persatuan di tengah keragaman budaya.
Pendeta GSJA Immanuel Boyolali, Pdt. Krishandrika Immanuel Raharjo, memberikan apresiasi tinggi atas kreativitas dan kekompakan yang ditunjukkan oleh para jemaat gerejanya. Menurutnya, keterlibatan aktif dalam kegiatan sosial dan kebangsaan merupakan wujud nyata kepedulian umat dalam membangun lingkungan sekitar.
Selain aksi membentangkan bendera, perayaan kemerdekaan ini juga dimeriahkan dengan tradisi kuliner yang sarat akan nilai sejarah perjuangan bangsa. Berdasarkan laporan media, para jemaat menyajikan sebanyak 54 jenis makanan olahan berbahan dasar singkong yang disusun membentuk kolase angka 81.
Penggunaan bahan pangan singkong dipilih secara khusus untuk mengenang kearifan lokal serta sumber makanan yang kerap dikonsumsi oleh para pejuang tempo dulu. Melalui sajian sederhana namun sarat makna ini, masyarakat diajak untuk menghargai ketangguhan para pendahulu dalam mengarungi masa-masa sulit perjuangan.