Fenomena semhastulation dan semprotulation mahasiswa Gen Z kini semakin marak di berbagai perguruan tinggi termasuk di UIN Sumatera Utara. Ruang sidang seminar hasil atau proposal tidak lagi sekadar tempat ujian akademik melainkan bertransformasi menjadi panggung perayaan penuh atribut dekoratif seperti balon, papan bunga, hingga buket uang.
Istilah kreatif tersebut lahir dari kreativitas linguistik generasi digital yang menggabungkan istilah akademik dengan kata congratulation. Perubahan ini memperlihatkan bagaimana pencapaian akademik bergeser menjadi pengalaman kolektif yang wajib didokumentasikan serta dibagikan ke jaringan media sosial.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeKonsep experience economy menjelaskan bahwa masyarakat modern mengonsumsi pengalaman emosional layaknya wisuda atau lamaran. Bagi Gen Z, sebuah momen penting dianggap tidak benar-benar terjadi tanpa adanya dokumentasi digital berupa foto maupun video reels yang diunggah ke platform publik.
Teori dramaturgi Erving Goffman memandang mahasiswa sebagai aktor di front stage yang menampilkan citra keberhasilan dan kebahagiaan. Sisi lain berupa proses panjang penyusunan skripsi yang penuh tekanan justru menjadi back stage yang jarang terekspos di hadapan publik.
Makna Simbolik dan Tekanan Sosial Tren Gen Z
Pierre Bourdieu menyatakan bahwa perayaan ini menghasilkan modal simbolik besar melalui buket bunga mewah dan kehadiran teman sebagai bentuk pengakuan sosial. Investasi simbolik tersebut memperkuat posisi seseorang dalam komunitas digital sekaligus memicu kompetisi prestise yang tidak disadari.
Jean Baudrillard menambahkan bahwa masyarakat postmodern mengonsumsi nilai tanda atau sign value dari suatu barang. Buket bunga dan dokumentasi profesional dibeli bukan karena fungsi akademik melainkan demi makna sosial yang melekat di dalamnya.
Solidaritas kelompok juga terbangun melalui ritual sekuler ini yang menciptakan collective effervescence di antara mahasiswa. Media sosial mempercepat difusi inovasi sehingga budaya perayaan tersebut kini menjadi ekspektasi sosial baru yang dianggap normal di lingkungan kampus.
Di balik sisi positif sebagai bentuk apresiasi perjuangan akademik, fenomena ini turut melahirkan tekanan struktural dan budaya konsumtif bagi mahasiswa. Sebagian kalangan terpaksa merogoh kocek dalam demi memenuhi standar visual media sosial yang terus berkembang.