Otoritas tertinggi sepak bola dunia, FIFA, resmi digugat ke pengadilan atas dugaan praktik perdagangan yang menipu terkait penjualan tiket Piala Dunia 2026. Berdasarkan berkas gugatan kelompok (class action) yang diajukan di Washington, DC, badan tersebut dituduh sengaja memberikan harapan palsu kepada fans reguler mengenai peluang mendapatkan kursi strategis di dekat lapangan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Dalam dokumen gugatan yang didaftarkan pada 2 Juli waktu setempat, penggugat menyoroti penjualan tiket "Kategori 1". FIFA dinilai sengaja menyesatkan penonton lewat peta kursi stadion yang menunjukkan bahwa pembeli Kategori 1 memiliki kesempatan untuk mendapat posisi di garis tengah lapangan. Padahal, slot premium tersebut diam-diam telah dikunci dan dialokasikan khusus untuk paket korporat serta tamu VIP dengan harga selangit.
Sistem ini dinilai tidak adil karena pembeli hanya bisa memilih kategori tiket saat memesan, bukan nomor kursi spesifik. Salah satu korban, Vera Feinhaus asal Washington, DC, mengaku telah membayar 1.680 dolar AS untuk dua tiket Kategori 1 laga fase gugur di Philadelphia. Namun, saat penempatan kursi dirilis pada Maret lalu, posisinya justru dilempar ke area sudut stadion yang tidak strategis.
Gugatan hukum ini menuntut ganti rugi materiil serta denda minimal 1.500 dolar AS per pelanggaran untuk setiap fans yang membeli tiket Kategori 1 di wilayah Washington, DC. Langkah hukum ini menjadi kartu merah beruntun bagi FIFA setelah sebelumnya Kejaksaan Agung New York dan New Jersey juga melayangkan panggilan pengadilan terkait taktik harga dinamis (dynamic pricing) yang dianggap mencekik.
Lonjakan harga tiket untuk laga final di MetLife Stadium bahkan sempat menyentuh angka fantastis hingga jutaan dolar AS. Untuk laga krusial antara Spanyol melawan Argentina saja, tiket di platform resmi terpantau dijual mulai dari 7.700 dolar AS hingga mencapai 112.000 dolar AS per lembar.
Tingginya harga tiket ini juga memicu kritik tajam dari Presiden Donald Trump, yang dahulu ikut membantu mengamankan status tuan rumah Piala Dunia 2026 untuk Amerika Utara. "Saya tentu ingin hadir di sana, tetapi jujur saja saya juga tidak akan sudi membayar harga sebesar itu. Jika masyarakat dari Queens, Brooklyn, dan semua orang yang mencintai Donald Trump tidak bisa menonton langsung, saya tentu sangat kecewa," tegas Trump dalam wawancara khusus.