Untuk bisa menyaksikan langsung laga final Piala Dunia 2026 di New York New Jersey Stadium, penonton tampaknya harus berstatus sebagai miliarder. Tiket untuk pertandingan yang digadang-gadang sebagai ajang olahraga termahal dalam sejarah Amerika Serikat ini melesat hingga menembus angka 2,3 juta dolar AS atau sekitar Rp 35 miliar di platform resmi FIFA kurang dari 24 jam sebelum kickoff.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Lonjakan harga yang sangat gila-gilaan ini dipicu oleh antusiasme luar biasa dari para suporter menjelang duel akbar antara Argentina yang dipimpin Lionel Messi melawan juara Eropa, Spain, dengan bintang mudanya Lamine Yamal. Pada hari Sabtu kemarin, tiket reguler sudah ludes terjual, menyisakan tiket di platform resale FIFA yang dibanderol mulai dari 10.000 dolar AS hingga harga tertingginya yang mencapai jutaan dolar.
Fenomena ini menjadi penutup dari turnamen yang konsisten menguras kantong para penggemar sepak bola. Meski awalnya sempat muncul kekhawatiran terkait pembatasan visa hingga gejolak domestik di Amerika Serikat, perjudian FIFA menetapkan tarif tinggi terbukti sukses besar karena fans tetap berebut membeli tiket.
"Apa yang dilakukan FIFA sangat baik dalam menentukan besarnya permintaan karena orang-orang bersedia membayar harga konyol ini untuk hampir seluruh 104 pertandingan," ujar Scott Friedman, seorang pakar perteketan dari Ticket Talk Network. Ia menambahkan bahwa setahun lalu banyak pihak skeptis karena isu keimigrasian di era Trump, namun popularitas Piala Dunia mengalahkan segalanya.
Berdasarkan analisis data kehadiran penonton, lebih dari separuh dari 72 pertandingan fase grup terisi penuh sampai kapasitas maksimal. FIFA bahkan mengklaim bahwa sekitar 99,7 persen kursi yang tersedia berhasil terjual selama babak penyisihan. Hal ini mematahkan kekhawatiran awal saat banyak kursi kosong terlihat di Guadalajara Stadium pada laga South Korea melawan Czechia bulan lalu.
Strategi penjualan tiket FIFA juga disinyalir menggunakan metode "slow ticketing" untuk mendongkrak permintaan pasar. Menurut Scott Friedman, penyelenggara sengaja membatasi inventaris tiket yang dilepas ke publik secara bertahap demi memicu kepanikan psikologis pembeli agar mereka segera melakukan transaksi dengan asumsi tiket sudah hampir habis.
Selain itu, penerapan sistem "dynamic pricing" atau harga dinamis yang baru pertama kali diperkenalkan FIFA di turnamen ini juga memicu kontroversi sekaligus keuntungan besar. Sistem ini membuat harga tiket berfluktuasi secara real-time berdasarkan tinggi rendahnya permintaan pasar, mirip dengan mekanisme pemesanan tiket pesawat.
Adam Elmachtoub, seorang profesor dari Columbia University mengungkapkan bahwa sistem dinamis ini memicu rasa frustrasi karena kurangnya transparansi dari FIFA. Namun, tingginya kualitas turnamen dan fakta bahwa laga ini kemungkinan menjadi penampilan terakhir Lionel Messi di Piala Dunia membuat penonton tetap rela merogoh kocek dalam-dalam demi mencetak sejarah.
Longgarnya aturan pasar sekunder di Amerika Serikat turut memperparah situasi ini, berbeda dengan Meksiko yang melarang penjualan tiket melebihi harga asli. Platform SeatGeek mencatat rata-rata harga tiket final mencapai 11.000 dolar AS, menjadikannya event termahal yang pernah mereka jual, bahkan melampaui gelaran Super Bowl 2024 sebesar 8 persen.
Kendati mendulang profit masif, kritik tajam tetap dialamatkan kepada organisasi pimpinan Gianni Infantino ini. Pakar hak asasi manusia memprotes bahwa Piala Dunia kali ini menjadi tidak inklusif bagi fans dari negara berkembang akibat mahalnya harga tiket serta sulitnya pengurusan visa ke Amerika Serikat, yang hanya menguntungkan turis kaya dari Eropa.