Gustavo Gordillo yang menjabat sebagai co-chair Democratic Socialists of America (DSA) di New York City, menuai sorotan tajam publik. Pria ini kerap melontarkan kritik keras terhadap kaum kaya serta memperjuangkan hak kelas pekerja, namun diketahui tinggal di sebuah rumah mewah di Brooklyn dengan estimasi harga 1,4 juta dolar AS atau sekitar Rp21,8 miliar.
Berdasarkan data properti, rumah yang berlokasi di kawasan Bed-Stuy tersebut dibeli oleh perusahaan keluarga pada tahun 2019. Ayah Gordillo, seorang pengusaha sukses imigran asal Peru, memberikan keterangan bahwa dirinya yang merenovasi properti tersebut dan mengizinkan kedua putranya untuk menempati bangunan itu.
Kontras antara retorika politik Gordillo dengan realitas kehidupannya memicu perdebatan di media sosial. Kritikus menilai gaya hidup sang aktivis sosialis tersebut mencederai pesan perjuangan yang ia gaungkan terkait keterjangkauan biaya hidup bagi warga kelas menengah ke bawah di New York City.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSebelumnya, Gordillo sempat memicu kontroversi ketika menyatakan bahwa tidak seharusnya ada hak konstitusional untuk mendapatkan keuntungan investasi dua digit. Pandangan tersebut dinilai ironis oleh sejumlah politisi lokal mengingat latar belakang ekonomi keluarga yang mendukung kehidupan mewahnya di kota yang kini semakin mahal tersebut.
Kritik Tajam terhadap Aktivis Sosialis
Sejumlah tokoh publik ikut mengomentari fenomena ini. Anggota Dewan Kota New York, Joann Ariola, melalui unggahannya di platform X menyindir bahwa tidak ada yang lebih mencerminkan kehidupan kelas pekerja selain tinggal di townhouse seharga 1,4 juta dolar AS yang dibelikan oleh sang ayah.
Anggota Dewan Kota lainnya, Vickie Paladino, menambahkan bahwa orang tua Gordillo bahkan melakukan renovasi untuk mengubah properti dua keluarga tersebut menjadi rumah mewah satu keluarga. Tindakan ini dianggap sebagai bentuk keserakahan yang justru sering dikritik oleh organisasi tempat Gordillo bernaung.
Dalam sebuah wawancara bersama New York Times pada bulan Agustus, Gordillo merespons disparitas antara ideologi dengan latar belakang keluarganya. Ia berargumen bahwa proyek sosialis demokratis bertujuan membangun dunia di mana kisah kesuksesan orang tuanya tidak lagi menjadi pengecualian.
Hingga laporan ini dimuat, pihak Gordillo maupun ayahnya belum memberikan tanggapan resmi saat dihubungi untuk memberikan klarifikasi. Isu ini terus bergulir di tengah meningkatnya ketegangan antara retorika kelompok sosialis dengan realitas sosial di New York City.