Konsumsi energi dan air yang masif dari pusat data kecerdasan buatan memicu penolakan publik, sementara sejumlah perusahaan teknologi berencana menempatkan fasilitas tersebut di luar angkasa. Perusahaan roket SpaceX milik Elon Musk termasuk di antara pihak yang berencana menyebarkan konstelasi satelit di orbit rendah Bumi untuk dijadikan pusat data.
Berdasarkan analisis Nature, gagasan memindahkan pusat data ke luar angkasa didasari oleh anggapan fasilitas itu dapat memanfaatkan energi surya berlimpah serta menghindari protes masyarakat. Namun, pandangan bahwa pusat data raksasa menjadi syarat mutlak kemajuan sains berbasis AI dinilai keliru karena kebutuhan infrastruktur riset berbeda dari platform konsumen.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribePusat data global menghabiskan sekitar 485 terawatt-jam listrik pada tahun lalu, setara dengan konsumsi energi Jerman, dan International Energy Agency memperkirakan angka tersebut akan berlipat ganda pada 2030. Lima perusahaan teknologi besar seperti Amazon, Alphabet, Microsoft, Meta, dan Oracle diperkirakan menggelontorkan lebih dari 600 miliar dolar Amerika Serikat untuk infrastruktur AI tahun ini.
Penolakan masyarakat terhadap pembangunan fasilitas tersebut terus meningkat seiring tekanan berat yang ditimbulkannya pada jaringan listrik lokal, penggunaan air, serta masalah lingkungan. Jajak pendapat Gallup pada Mei menunjukkan 71 persen warga Amerika Serikat menolak pembangunan pusat data di wilayah lokal mereka.
Komunitas ilmiah didorong memelopori adopsi model kecerdasan buatan berbobot terbuka yang dapat dijalankan secara lokal pada server institusional untuk mengurangi ketergantungan pada pusat data masif. Pendekatan tersebut dinilai jauh lebih transparan, akuntabel, dan efisien dalam pemanfaatan sumber daya komputasi tanpa mengorbankan kualitas riset.