Invasi Ambon merupakan operasi militer gabungan Indonesia yang bertujuan untuk merebut dan mencaplok wilayah Republik Maluku Selatan atau RMS yang memproklamirkan kemerdekaan pada 25 April 1950. Deklarasi tersebut dipimpin oleh mantan menteri kehakiman Indonesia Timur Christiaan Robbert Steven Soumokil di Ambon dan Seram.
Penduduk Maluku Selatan yang mayoritas beragama Protestan dan pro-Belanda mendeklarasikan kemerdekaan karena tidak mempercayai Republik Indonesia yang didominasi oleh etnis Jawa dan Muslim. Mereka membentuk Angkatan Bersenjata RMS atau APRMS yang sebagian besar anggotanya merupakan mantan tentara Kerajaan Hindia Belanda atau KNIL.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribePresiden Soekarno memerintahkan militer Indonesia untuk melakukan invasi setelah pemulihan negara kesatuan Republik Indonesia diproklamasikan pada 17 Agustus 1950. Pasukan TNI menghadapi perlawanan sengit dari mantan tentara KNIL yang terlatih dengan baik dan memiliki kemampuan bertempur tinggi di medan pertempuran.
Blokade laut oleh angkatan laut Indonesia mendahului invasi ke Ambon yang terjadi pada 28 September 1950. Kota Ambon akhirnya jatuh ke tangan tentara Indonesia pada 5 November 1950, sementara pemerintah RMS melarikan diri ke Seram untuk melanjutkan perlawanan melalui perang gerilya.
Akhir Perlawanan RMS dan Dampak Pengungsian ke Belanda
Perlawanan APRMS di Ambon berhasil dipadamkan pada November 1950 meskipun tentara Indonesia menderita kerugian besar dalam pertempuran tersebut. Letnan Kolonel Slamet Rijadi yang memimpin pasukan Indonesia di sektor Maluku gugur pada hari terakhir kampanye militer tersebut.
Setelah penumpasan RMS, timbul permasalahan pelik terkait demobilisasi ribuan mantan tentara KNIL asal Maluku yang menolak bergabung dengan tentara Republik Indonesia. Pemerintah Indonesia menolak permintaan mereka untuk dipindahkan ke Maluku sebelum situasi keamanan benar-benar pulih sepenuhnya.
Pemerintah Belanda akhirnya memutuskan untuk mengangkut sisa tentara beserta keluarga mereka ke Belanda di tengah tekanan internasional yang berat. Sekitar 12.500 orang menetap di Belanda dan ditempatkan sementara di berbagai kamp penampungan.
Peristiwa bersejarah ini meninggalkan warisan panjang dalam dinamika hubungan sosial dan politik antara Indonesia dan komunitas Maluku di Belanda. Operasi militer tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah pengamanan keutuhan wilayah Republik Indonesia.