Puri Agung Klungkung atau Puri Agung Smarajaya berdiri megah di Semarapura sebagai pusat pemerintahan sekaligus simbol legitimasi kekuasaan penguasa Kerajaan Klungkung di Bali. Kompleks bangunan bersejarah ini diperkirakan mulai dibangun pada tahun 1686 dan berfungsi sebagai istana kediaman raja dari tahun 1700 hingga 1908.
Pembangunan istana bermula dari peristiwa hancurnya Kerajaan Gelgel akibat pemberontakan Gusti Agung Maruti pada tahun 1651. Raja yang sah saat itu, Sri Dalem Dimade, terpaksa melarikan diri sebelum akhirnya seorang pangeran bernama Ida I Dewa Agung Jambe memimpin serangan balasan untuk merebut kembali wilayah tersebut pada 31 Oktober 1686.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeKarena wilayah Gelgel yang terkena darah peperangan dianggap kotor secara spiritual, Dewa Agung Jambe memilih mendirikan pusat kekuasaan baru di wilayah utara yang dinamakan Semarapura. Ia membangun istana baru bernama Puri Agung Smarajaya yang rampung pada tahun 1622 Saka atau 1700 Masehi berdasarkan catatan pada gerbang utama.
Sayangnya, sebagian besar bangunan istana hancur akibat perang dan penaklukan kolonial Belanda pada bulan April 1908. Saat ini, reruntuhan istana yang tersisa dan masih dapat disaksikan meliputi Aula Pengadilan Kertha Gosa, Paviliun Bale Kambang, serta Pintu Masuk Istana Kori Agung yang selesai direnovasi pada era 1940-an.
Arsitektur Unik dan Paviliun Kerta Gosa
Tata letak Puri Smarajaya dirancang langsung oleh Dewa Agung Jambe dengan memadukan konsep tata ruang Jawa Kuno dan prinsip arsitektur tradisional Bali. Puri ini dibangun berdasarkan konsep Catus Pata atau perempatan agung yang menjadi titik nol dari sistem penataan ruang kota kerajaan.
Salah satu keunikan arsitektur puri ini adalah orientasinya yang membelakangi arah selatan atau laut, berbeda dengan kebanyakan puri di Bali yang menghadap ke gunung. Pendekatan ini mencerminkan bentuk sinkretisme arsitektural antara tradisi Jawa dan Bali yang sarat akan makna filosofis mendalam.
Di dalam kompleks istana, terdapat Paviliun Kerta Gosa yang dibangun pada akhir abad ke-18 dan berfungsi sebagai pengadilan tinggi bagi kerajaan. Tempat ini terkenal karena memiliki langit-langit bergaya lukisan Kamasan yang menggambarkan hukum alam, karma, serta berbagai bentuk hukuman di akhirat.
Kini, sisa-sisa kemegahan Puri Agung Klungkung tidak hanya menjadi saksi bisu dinamika politik masa lalu, tetapi juga destinasi penting yang merawat warisan seni, budaya, dan sejarah peradaban masyarakat Bali.