Puri Agung Denpasar atau yang juga dikenal sebagai Puri Satria merupakan salah satu peninggalan bersejarah penting dari era kerajaan di Bali selatan. Kompleks bangunan ini didirikan oleh Kyai Agung Made Ngurah yang bergelar I Gusti Ngurah Made Pemecutan sebagai raja pertama, dengan pembangunan yang rampung pada tahun 1788 setelah pemindahan pusat pemerintahan dari Puri Jambe Kesatria.
Perjalanan sejarah puri ini mencatat masa-masa penuh gejolak, termasuk ketika Pasukan Belanda mengalahkan Kerajaan Badung lewat peristiwa Perang Puputan Badung pada tahun 1906. Selepas kekalahan tersebut, area puri sempat dikuasai oleh Pemerintah Hindia Belanda dan dialihfungsikan menjadi rumah jabatan asisten residen, sebelum akhirnya berpindah tangan ke Pemerintah Republik Indonesia dan kini menjadi rumah jabatan Gubernur Bali.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSecara geografis, lokasi puri ini terletak di Jalan Veteran Nomor 62, Denpasar, berjarak sekitar 300 meter ke arah utara dari Lapangan Puputan Badung. Keberadaan kompleks ini sangat lekat dengan aktivitas masyarakat sekitar, terutama karena lokasinya yang berdampingan dengan Jaba Pura Pedharman Ksatria serta pusat keramaian lokal di kawasan tersebut.
Silsilah penguasa puri ini memiliki akar yang kuat dari dinasti Pemecutan dan keturunan Dalem Sukawati, yang membentuk kepemimpinan turun-temurun di Kerajaan Badung. Meskipun sempat mengalami masa kehancuran akibat perang kolonial, keluarga besar keturunan puri kemudian membangun kediaman baru di sekitar Puri Satria untuk menjaga eksistensi dan warisan leluhur mereka.
Transformasi dan Peran Puri Agung Denpasar Saat Ini
Puri Agung Denpasar saat ini masih mempertahankan beberapa peninggalan arsitektur unik dari masa kolonial, seperti wantilan atau pendopo serta Kori Agung bergesek gaya Belanda yang dibangun ulang pada tahun 1928. Kombinasi arsitektur tradisional Bali dan sentuhan Eropa tersebut menjadi ciri khas tersendiri yang membedakannya dari puri-puri lain di Pulau Dewata.
Meskipun area utama bekas pusat pemerintahan kini berfungsi sebagai rumah jabatan resmi Gubernur Bali, kawasan merajan atau tempat suci tetap berdiri kokoh dan dirawat dengan baik oleh keluarga besar keturunan puri. Kompleks tempat tinggal baru mereka juga berada tepat di depan Pura Pedharman Agung Ksatria Denpasar.
Fungsi bangunan bersejarah ini telah bergeser dari pusat pemerintahan politik menjadi pusat kegiatan sosial, pelestarian budaya, serta kegiatan spiritual masyarakat setempat. Keluarga puri secara aktif mengelola berbagai program kemasyarakatan demi menjaga nilai-nilai luhur tradisi lokal.
Salah satu wujud nyata pelestarian budaya tersebut adalah penyediaan sanggar tari gratis bagi anak-anak usia sekolah dasar di Denpasar. Langkah ini diambil sebagai upaya membentengi generasi muda dari derasnya arus globalisasi agar tidak kehilangan identitas kebudayaan Bali.