Setiap pagi, fotografer lepas Mohammed al-Qahouji berusaha merajai kembali hidupnya yang hampir direnggut oleh perang. Pria berusia 40 tahun ini harus menghadapi tantangan fisik dan emosional yang berat setiap kali turun ke lapangan karena rasa sakit yang terus mendera rahang, tangan, dan punggungnya akibat serangan udara Israel pada Januari 2024 silam.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Serangan tersebut merenggut nyawa rekan sesama jurnalis dan meninggalkan luka parah di wajah serta tangan al-Qahouji, yang memerlukan pemasangan pelat titanium dan lebih dari 25 kali operasi. Meskipun dokter menyatakan bahwa ia membutuhkan operasi rekonstruksi lanjutan dan rehabilitasi jangka panjang di luar negeri, blokade yang membatasi pergerakan membuat akses tersebut tertutup.
Tidak hanya al-Qahouji, puluhan jurnalis lainnya di Gaza juga menghadapi situasi serupa akibat luka-luka perang maupun penyakit kronis yang tidak dapat ditangani secara lokal. Ahed Farwana, sekretaris jenderal Palestinian Journalists Syndicate (PJS), menyatakan bahwa lebih dari 40 jurnalis Palestina saat ini membutuhkan evakuasi medis segera ke luar negeri demi kelangsungan hidup mereka.
Salah satu jurnalis yang turut merasakan dampaknya adalah Moaz al-Salhi, seorang fotografer berusia 34 tahun yang menderita penyakit Crohn parah namun tidak mendapatkan perawatan biologis yang memadai sejak perang dimulai. Al-Salhi sering kali harus membawa peralatan medis beserta kamera saat meliput, hingga akhirnya ia sendiri yang harus menjadi subjek berita karena kondisi tubuhnya yang semakin melemah.
Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lebih dari 18.500 pasien di Gaza saat ini sangat membutuhkan evakuasi medis darurat untuk perawatan spesialis yang tidak tersedia secara lokal. Penutupan serta pembatasan di perbatasan membuat ribuan pasien termasuk para jurnalis terlantar dalam daftar tunggu tanpa kepastian keselamatan.
Para jurnalis dan organisasi pers terus mendesak komunitas internasional untuk segera turun tangan memfasilitasi evakuasi medis sebelum kondisi kesehatan para korban memburuk secara permanen. Bagi mereka, kesempatan untuk berobat bukan lagi sebuah kemewahan, melainkan hak dasar demi bisa bertahan hidup dan kembali berkarya.