Kabayan News Kabayan News
/home / internasional / Krisis Kemanusiaan di Gaza, Bayi...
INTERNASIONAL

Krisis Kemanusiaan di Gaza, Bayi Prematur Berjuang untuk Bertahan Hidup

By Redaksi Kabayan News • 2 min read • 2026-07-25
Bayi prematur di dalam inkubator rumah sakit di Gaza berjuang bertahan hidup

Bayi prematur di dalam inkubator rumah sakit di Gaza berjuang bertahan hidup

Noor Salem, seorang ibu berusia 30 tahun di Gaza tengah, harus menghabiskan hari-harinya di samping inkubator rumah sakit untuk memantau kondisi bayinya, Yazan Al-Khalidi. Yazan lahir prematur pada usia kandungan delapan bulan dengan kondisi mengalami masalah pernapasan serius yang langsung mengharuskannya mendapatkan perawatan intensif di Al-Aqsa Martyrs Hospital di Deir el-Balah.

Bagi Noor, pengalaman ini membawa kepedihan mendalam karena ia sebelumnya telah kehilangan anak pertamanya saat masa kelaparan di Gaza pada tahun 2025. Sepanjang kehamilannya kali ini, ia terus dihantui rasa takut akan kehilangan buah hatinya kembali akibat kekurangan kebutuhan pokok serta tekanan mental yang berat.

UNICEF mencatat terjadinya lonjakan tajam pada kasus kelahiran prematur, bayi berat badan lahir rendah, hingga bayi lahir mati sejak konflik di Gaza memanas pada Oktober 2023. Krisis ini diperparah oleh malnutrisi maternal, stres psikologis berkepanjangan, serta minimnya akses layanan kesehatan pra-kelahiran bagi para ibu.

Dr Afnan Abu Hasaballah, seorang dokter obstetri dan ginekologi yang bertugas bersama UNRWA dan Al-Awda Health Hospital, menjelaskan bahwa banyak ibu hamil datang ke rumah sakit dalam kondisi kelelahan ekstrem dan stres berat. "Constant fear, repeated displacement, lack of food and clean water, and limited access to prenatal care all increased the risk of premature birth," ujarnya menggambarkan situasi sulit para ibu.

Al-Aqsa Martyrs Hospital saat ini menjadi satu-satunya fasilitas kesehatan yang memiliki unit neonatal di wilayah Gaza tengah, sehingga menanggung beban yang sangat berat. Para tenaga medis terpaksa bekerja di tengah keterbatasan inkubator, ventilator, obat-obatan, serta krisis pasokan listrik dan bahan bakar yang mengancam keselamatan bayi di dalam inkubator.

Setelah diperbolehkan pulang, para orang tua kembali dihadapkan pada perjuangan berat karena ketiadaan perlengkapan bayi yang layak, susu formula, serta air bersih akibat pengungsian dan blokade. Organisasi seperti Qutoof Al-Khair Foundation berupaya memberikan bantuan suplemen gizi dan vitamin, namun skala kebutuhan di lapangan masih jauh melampaui sumber daya yang tersedia.

Topics
gaza bayi prematur kesehatan unicef kemanusiaan konflik
Tim Jurnalis & Analis Berita

Redaksi Kabayan News adalah tim jurnalis profesional, analis, dan kreator konten yang berdedikasi menyajikan berita nasional dan internasional terlengkap. Dari berita politik breaking news hingga analisis ekonomi mendalam, kami hadir untuk masyarakat Indonesia yang cerdas dan haus akan informasi berkualitas.