Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla kembali meluas di sejumlah wilayah Indonesia dan memicu kekhawatiran serius dari berbagai pihak. Berdasarkan laporan media Suara.com, fenomena tahunan ini dinilai masih mendapat penanganan yang keliru karena pemerintah cenderung lebih fokus memadamkan api ketimbang mencegahnya sejak dini.
Pemantauan yang dilakukan oleh Greenpeace Indonesia pada 11 hingga 16 Agustus 2026 mencatat adanya 592 titik sumber asap di wilayah Kalimantan. Mayoritas titik tersebut, yakni sebanyak 455 titik, terpantau berada di kawasan ekosistem lahan gambut yang sangat rentan.
Sebaran titik api terdeteksi paling masif di Kalimantan Barat dengan 322 titik, disusul oleh Kalimantan Tengah sebanyak 181 titik, dan Kalimantan Selatan mencatatkan 86 titik panas. Masifnya kebakaran ini bahkan mengirimkan kabut asap lintas batas hingga menyeberang ke wilayah Sarawak, Malaysia.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribePersoalan serupa ternyata juga melanda kawasan Papua Selatan dengan temuan 284 titik sumber asap, di mana 278 titik di antaranya terkonsentrasi di Merauke. Kerusakan pada ekosistem lahan basah dan gambut di wilayah tersebut dinilai semakin memperparah risiko kebakaran akibat tata air yang terganggu.
Menanggapi langkah penanganan pemerintah seperti operasi modifikasi cuaca dan pengerahan helikopter, Peneliti Senior Greenpeace Indonesia Sapta Ananda Proklamasi menyatakan bahwa langkah tersebut belum menjadi solusi yang tepat. Menurutnya, operasi cuaca merupakan bentuk respons darurat ketika bencana sudah terjadi, bukan upaya antisipasi terhadap akar masalah.
Lebih lanjut, pihak Greenpeace menekankan pentingnya perbaikan sumber daya air, pemulihan kawasan gambut yang rusak, serta pengetatan tata kelola lahan. Upaya preventif semacam itu dinilai jauh lebih efektif guna memutus siklus tahunan karhutla di Indonesia.
Dampak dari bencana ekologis ini juga mulai dirasakan langsung oleh masyarakat melalui penurunan kualitas udara yang drastis. Data IQAir menunjukkan kualitas udara di Pontianak berada pada kategori tidak sehat, sementara Palangkaraya sempat mencatatkan tingkat bahaya yang memicu lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA.