Langkah besar diambil perusahaan kecerdasan buatan Anthropic yang memutuskan menambahkan watermark pada seluruh output AI mencakup teks, gambar, hingga kode pemrograman secara global tanpa opsi pengecualian bagi pengguna.
Kebijakan tersebut diumumkan sebagai bentuk kepatuhan terhadap regulasi Article 50(2) Code of Practice on Transparency of AI-Generated Content di bawah EU AI Act. Walau demikian, perusahaan memilih memperluas penerapan ini ke seluruh produk termasuk model lama mereka.
Menurut pengamatan media, kebijakan ini langsung memicu gelombang kritik dari berbagai kalangan industri teknologi. Sebagian pihak khawatir penambahan watermark menurunkan kualitas output, sementara yang lain merasa penggunaan AI tersembunyi mereka menjadi terekspos.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeBerdasarkan analisis teknis, watermark pada file seperti gambar menggunakan standar terbuka C2PA yang didukung perusahaan besar lain. Tantangan terbesar justru terletak pada teks, di mana model menyisipkan tanda tak terlihat melalui pola pilihan kata yang bertahan dari proses salin tempel ringan.
Kendati inovatif, efektivitas sistem ini dipertanyakan karena ketiadaan standar tunggal yang menyatukan seluruh pengembang AI di dunia. Keberadaan model open-weight lokal serta mudahnya menghapus tanda melalui modifikasi membuat keberadaan watermark kehilangan taringnya.
Berdasarkan laporan mendalam, penerapan watermark lebih condong menjadi upaya pemenuhan regulasi ketimbang solusi mutlak mendeteksi konten buatan mesin. Tanpa standardisasi masif dan transparansi data, teknologi ini diprediksi tidak membawa perubahan besar dalam industri.