Kecamatan Nguter tercatat sebagai wilayah paling rawan di Kabupaten Sukoharjo setelah mencatatkan belasan insiden kebakaran lahan selama puncak musim kemarau tahun ini. Berdasarkan catatan Bidang Pemadam Kebakaran Satpol PP Kabupaten Sukoharjo, ada 11 kasus kebakaran yang melanda kawasan tersebut dalam kurun waktu kurang dari tiga bulan.
Lonjakan kejadian ini merupakan bagian dari gelombang 61 kasus kebakaran lahan terbuka dan semak belukar yang meluas di berbagai wilayah Kabupaten Sukoharjo sejak 1 Juni hingga 2 Agustus 2026. Kepala Bidang Pemadam Kebakaran Satpol PP Kabupaten Sukoharjo, Margono, menjelaskan bahwa cuaca panas ekstrem dan minimnya curah hujan memicu kekeringan vegetasi secara masif.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeData instansi terkait menunjukkan bahwa bulan Juli menjadi periode terparah dengan total 35 kejadian kebakaran lahan serta 11 insiden kebakaran barongan atau limbah pertanian. Kondisi tersebut membuat petugas pemadam kebakaran harus bekerja ekstra keras menangani laporan darurat yang terus berdatangan setiap harinya.
Selain faktor cuaca yang tidak menentu, aktivitas manusia seperti membakar sampah sembarangan dan membuang puntung rokok di area kering turut memperparah situasi. Pihak berwenang lantas meminta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan tinggi serta menghentikan kebiasaan membersihkan lahan dengan cara dibakar.
Sebaran Kasus Kebakaran Lahan di Sukoharjo
Peta sebaran menunjukkan bahwa setelah Kecamatan Nguter dengan 11 kasus, wilayah Kecamatan Grogol mengekor di posisi kedua dengan catatan 10 kejadian kebakaran lahan. Kasus serupa juga ditemukan merata di sejumlah kecamatan lain di Kabupaten Sukoharjo dengan tingkat intensitas yang bervariasi.
Kecamatan Kartasura mencatatkan delapan kejadian, disusul Kecamatan Sukoharjo sebanyak tujuh kasus, serta masing-masing lima kejadian di wilayah Bendosari, Tawangsari, dan Baki. Sementara itu, Kecamatan Weru melaporkan tiga kejadian, diikuti Bulu, Mojolaban, dan Polokarto yang masing-masing mengalami dua kasus.
Wilayah dengan tingkat kerawanan paling rendah tercatat di Kecamatan Gatak yang hanya melaporkan satu kejadian kebakaran lahan selama periode musim kemarau tersebut. Secara keseluruhan, aparat gabungan terus bersiaga menghadapi potensi lanjutan seiring dengan belum berakhirnya musim kemarau panjang.
Masyarakat diimbau agar segera melaporkan kepada petugas pemadam kebakaran terdekat apabila melihat titik api sekecil apapun agar penanganan dapat dilakukan secara cepat dan mencegah terjadinya kebakaran yang lebih luas.